HUJAN DI
MUSIM SEMI
Musim semi datang membawa
semua kenangan tentang aku dan dia. Awal pertemuan aku dan dia. Entahlah, ini
musim semi yang keberapa. Aku masih sama, belum berubah—yang berubah hanyalah
keadaan kita. Dulu kita punya arah dan tujuan sama. Ingatkah? Awal memasuki
ruang kelas menengah atas, garis-garis polos, lugu, bersemangat, bingung,
bahkan sedih melapisi setiap wajah siswa baru. Aku tersenggal oleh tepukan
tangan seseorang”boleh menggeser tempat
duduknya. Tempat duduk yang lain sudah penuh”. Aku hanya membalas dengan “anggukan”, iya. Tapi bukan karena aku
dan dia berbagi tempat duduk yang akhirnya membuatku terkagum-kagum padanya. Dari
aku dan dia satu kelaslah awal muasal cerita ini. Sungguh, gadis mana yang
tidak kagum dengan kepintaran seseorang. Membimbing teman yang kurang
pengetahuannya, namun tidak menggurui. Hari demi hari, lantas bulan. Entahlah,
sejak kapan rasa kagum ini bertambah kadarnya atau mungkin sudah berubah
bentuknya. Dari rasa kagum berubah rasa suka, entahlah. Yang pasti kita sering
meluangkan waktu bersama, belajar bersama, dan bermain bersama. Pernah suatu
ketika, aku dan dia hendak menghadiri acara pameran tentang seni, namun karena
ban bus yang kita tumpangi bocor, kita diturunkan di jalan. Dan betapa tidak
beruntungnya, hujan turun dengan derasnya. Buru-buru aku dan dia tergopoh-gopoh
mencari tempat berteduh. “Ris, kau tahu,
kenapa bagiku hujan selalu menenangkan? Karena bagiku, air hujan yang turun itu
membawa oksigen—bagai menyapu bersih rasa lelah yang kita rasakan, dan air
hujan yang mengalir bagai bisa membawa setiap masalah yang kita miliki hanyut
olehnya”
Dan kata-kata itulah
yang selalu aku ingat hingga saat ini. Meski banyak perkataan-perkataan hebat
yang keluar dari mulutnya. Tapi hanya itu yang ingin aku ingat. Bulan berganti
tahun. Entahlah, apa yang membuat aku dan dia pada akhir kelulusan berubah arah
dan tujuan.
“Ris, kamu mau nglanjutin sekolah kemana?”, di
tempat aku dan dia biasa nongkrong sontak terasa mengecil, udara di sekitar
ruangan menepi dariku. Mata ini penuh emosi. Aku menjawab,”mungkin Jakarta Kal, kamu?”. Sungguh pada saat itu aku tak ingin
mendengar jawabannya, atau kalau bisa aku ingin menyumpal telingaku dengan
sendok yang aku pegang, tapi sebelum aku melakukannya, suara Haikal lebih dulu
mengetuk gendang telingaku. “aku ingin melanjutkan ke luar negeri Ris. Emm
Rista,di manapun nantinya kamu sekolah berjanjilah selalu menjadi gadis yang
ceria, lucu, dan pintar. Setelah dua tahun nanti, datanglah ke airport yang
dulu kita pernah nemuin anak kucing bersama”
Dan benar saja, aku
seperti anak ABG yang mudah percaya dengan omongan seseorang. Iya, setelah dua
tahun melewati masa-masa perkuliahan yang sulit. Namun, semua masa sulit itu
begitu mudah aku lewati. Dan seolah-olah dia menjadi semangat positif bagiku.
Aku menepati janjiku. Aku datang ke airport yang dia katakan dua tahun silam.
Entahlah, apa semua tentangnya yang dulu sudah berubah. Aku sempat mencari
berita tentang kedatangan pesawat terbang dari Singapura menuju Indonesia. satu
jam sudah aku menuggu. Entahlah, apa yang membuatku gugup dan tidak sabar ingin
segera melihatnya.”Rista....”. suara
lembut itu terdengar dari balik pintu airport. Aku refleks menoleh. Dan
lihatlah betapa mengagumkannya dia, ucapan selamat datangnya, ucapan sebagai
seorang sahabat lama yang begitu menenangkan. Sungguh, ini kebahagiaan yang
luar biasa. Tapi entahlah, siapa gadis menawan yang tersenyum kepadaku dari
balik punggungnya. Tanpa pikir panjang, dia meraih koper-koper yang dibawa
gadis itu lantas memperkenalkan padaku. Sungguh, kebahagiaan yang baru saja aku
rasakan, perlahan berguguran. Gadis itu calon tunangannya. Untuk sekadar
mengatakan nama saja, lidahku kelu. Tubuhku gemetaran, entahlah. Macam ada
sesutu yang menggores hati ini. Entahlah, aku merasa mata ini perih. Aku
tertunduk sebentar, mencoba menguatkan hati. Dan aku hanya bisa tersenyum
dengan sesuatu yang mencekik di leherku.”Ris, gimana kalau kita makan bersama,
untuk merayakan kedatanganku”. Aku buru-buru menjawab dengan terbata-bata,”emm,
gak usah Kal, kalian makan aja duluan, aku masih menuggu kakakku juga, iya dia
juga akan segera tiba”. Aku berbohong, mana mungkin kakakku pergi ke luar
negeri. Semua perkatannya dulu berputar-putar di kepalaku. Perkataan tentang
perasaannya, tentang harapannya. Sungguh, harapan itu berguguran dan takkan
menjadi kenyataan. Haikal membantu gadis itu memasukkan koper satu per satu ke
mobil lantas menghampiriku berusaha tegar mengatakan,”maafkan aku Ris,
membuatmu menunggu. Kau masih sama, masih ceria dan lucu”. Aku tersenyum
sembari melihat mobil mereka melaju mulus ditelan kelokan jalan. Entahlah,
kenapa suasana di airport ini mendadak mendukung suasana hatiku. Langit yang begitu
cerah berubah gelap, kumpulan awan mengepal, dan hujan turun tak terhentikan.
Kini kita telah berbeda. Musim semi tahun ini biarlah menjadi penutup ceritaku
tentangmu. setidaknya aku tidak perlu menunggu harapan yang belum pasti. Meski
dengan gores di hati, setidaknya semua menjadi lebih jelas. Musim semi dipadu
hujan deras ini biarkan seperti perkataannya dulu. Biarlah, hujan deras yang
akan membawa rasa lelah menuggunya, biarkan juga hujan deras ini menyapu habis
perasaan tentangnya. Biar aku lega pada Musim Semi yang memberi lembar baru di
tahun ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar