Beri "Kemungkinan" Rasa Sakit
Aku
malas mengakui bahwa kita berbeda.
Sebenarnya
aku terlalu polos untuk mengartikan gerak-gerikmu.
Bahwa
tiap kali kau menanyakan kabar adalah hal yang istimewa bagiku.
Tapi
(mungkin) kau juga menanyakan kabar pada siapa saja, dan tak ada syarat istimewa
untukku.
Bahwa
kepedulianmu selalu aku rasakan, tiap kali kau berbicara.
Tapi
(mungkin) kau selalu peduli pada teman-temanmu karena memang itu sifatmu.
Ataukah
aku yang hanya merasa kau peduli? Padahal perlakuanmu sama rata pada siapa
saja.
“Aku hanya bingung.
Berhentilah
membuatku merasa selalu ada
kemungkinan-kemungkinan yang indah padahal hal indah itu adalah perasaan yang
kureka sendiri.
Aku
selalu merasa gelisah, menebak-nebak tatapanmu.
Tatapanmu
yang mengesankan.
Meski
aku selalu keras pada hatiku, tapi aku terlalu menebak hal-hal yang indah.
Padahal
(mungkin) kau biasa padaku.
Berhentilah melambungkanku dengan kata-kata manismu.
Biar
aku tak berasumsi (mungkin) perkataanmu hanya candaan belaka.
Bahkan
aku teramat sadar kata-kata manis itu tak lain hanya untuk gadismu.
Bisakah
kau berhenti membuatku berharap? Karena tiap kali aku ingin berhenti, tatapanmu
selalu meyakinkan untuk kembali mengagumimu.
Aku
tidak ingin menjauhimu, aku hanya ingin biar hatiku pergi.
Biar
meski ragaku disekelilingmu, namun hatiku tak bisa merasakan harapan.
Karena
meski aku sekeras mungkin tak peduli namun hatiku takut kau pergi.
Kenyataannya
aku takut tak ada yang peduli padaku, aku takut kau berubah.
Padahal
banyak bukti yang memimpinku percaya pada kenyataan bahwa (mungkin) aku keliru.
Tapi
hatiku tetap berdiri melihatmu.
Maka, jika kau tak bisa berhenti membuatku berharap, cukup dengan rasa sakit saja kau menyuntikku biar aku tetap ingat kau milik orang lain.
Maka
bagiku rasa sakit adalah bahagia.
Bahagia
atas perasaanmu padanya.
Bahagia
bahwa aku tetap sadar diri.
Bahagia
karena meski kenyataannya aku terlalu berharap, aku selalu ingat harapan itu
hanya kurasakan sendiri.
Aku mohon beri aku rasa sakit yang lebih dari biasanya.
Entah
mengapa, rasa sakit itu cepat menguap karena tatapanmu.
Jika
hanya aku yang mencari rasa sakit itu, aku kesulitan meyakinkan hatiku.
Maka
beri aku rasa sakit, biar aku lupa pernah memiliki harapan yang indah.
Biar
hatiku tak menikung dengan kata “mungkin” ketika kau bersikap manis padaku.
Sekalipun aku malas mengakui bahwa kita berbeda.
Setidaknya
dengan rasa sakit, aku bisa merangkak perlahan berhenti mengagumimu.
Karena
meski dengan kenyataan tak cukup membuatku berhenti, maka sekali lagi beri aku
rasa sakit.”
Surakarta,
27 Januari 2014.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar