Senin, 27 Januari 2014

Kampung Kesedihan Selalu Berlalu



Percayalah, kampung kesedihan selalu berlalu.
Subhanallah, menghargai sesuatu termasuk hal yang teramat sulit juga(ternyata). Karena di dalam kata menghargai terselip satu kata, adalah “IKHLAS”. Bagaimana mungkin tidak sulit, ikhlas menerima harus selalu mencoba berdamai dengan ego kita. Sungguh, saya tidak menyalahkan siapapun dalam berpendapat, merancang kegiatan. Saya juga tidak ingin selalu mementingkan ego. Saya menulis ini, supaya hati ataupun rasa ingin yang besar ini terbalut kelegaan. Barangkali, teman saya membaca ini, sungguh saya menyayangi kalian semua. Waktu memang terus berjalan, bukan? Membawa kita dari satu tempat ke tempat lain. Memisahkan raga yang telah lama bersama. Membuat kita mengerti betapa, ketika kita telah nyaman dengan seorang sahabat dan harus berpisah mengisahkan kenangan yang termat indah. Kenangan yang jika dikenang membuat gundukan rasa “kangen”. Baiklah, saya hanya merasa tidak seberuntung kalian, sahabat. Bergelut dengan keadaan?sungguh,  Saya tidak akan menang. Menelan ketidakbisaanku menikmati setiap  candaan bersama kalian berarti aku harus menghargai keadaan skenario dari Tuhan. Belajar memahami makna kata ikhlas. Pun jika memang saya tidak bisa hadir, saya sungguh menginginkan bisa hadir, bercerita dengan kalian di lain waktu. Karena rasa rindu yang termat besar sehingga ego ini berkontraksi pada keadaan yang terhalang. Meski pertemuan yang terencana ini untuk kedua kalinya saya tidak bisa hadir, saya sungguh berdoa dalam hati. Semoga ego ini selalu luruh karena kenangan yang terukir amat indah. Semoga untuk pertemuan kesekian kali, saya dapat hadir menikmati candaan, senyum, dan cerita bersama kalian. Karena kampung kita tak akan pernah sepi. Kampung yang dihuni beragam senyum,dan semangat yang luar biasa. Dimana ketika kesediahan merenggut kebahagiaan maka akan ada kebahagiaan lain yang menunggu. Percayalah, kampung kesedihan hanyalah ilusi, akan terus berlalu seiring penghuni selau tersenyum. saya hanya percaya pada Tuhan, jikalau hari ini banyak kesedihan yang membalut maka suatu hari nanti kebahagiaanlah yang akan merobek balut kesediahan.

 Allah Maha Adil. ketika saya tidak bisa menikmati canda tawa bersama sahabat yang telah lama tak berjumpa, kebahagiaan lain selalu menunggu. kita hanya perlu memberi kesempatan pada kebahagiaan lain, meski kadar kebahagiaan tersebut berbeda-beda.
acara refreshing bersama teman kampus

otak berfikir mulus



Jurus Andalan
Dalam ranah kehidupan, ada banyak hal yang akan tetap menjadi misteri. Bahkan hidup, jodoh, dan mati pun tak ada satu manusia yang dapat meramalkan. Satu hal yang menurut saya sangat misterius, sesuatu yang nothing appear but we can feel all. Cinta.

 Saya sempat kehilangan definisi tentang cinta setelah mengerti, paham betapa mengerikannya dalam dunia pacaran. Kebanyakan kalau dua anak manusia punya perasaan yang sama lantas mereka menautkan dengan kata pacaran. Menurut saya, jika kalian yang punya perasaan sama, lantas pacaran itu sebuah kesalahan. Kalian akan sama-sama membuat lubang di hati masing-masing, membuat lara. Meski lubang lara ini beda dengan yang punya perasaan namun tersimpan rapih di hati. Memendam perasaan tersebut bukan lagi menjadi lara ketika kita mampu merajut pemahaman yang sopan. Namun,remaja jaman sekarang banyak yang lalai ya, begitu juga dengan diri saya yang masih jauh dengan kesempuranaan.
Mari taubat sahabat-sahabat yang cantik jelita. Pacaran bukan solusi yang pantas diselenggarakan untuk ajang menyatukan perasaan. Meski memendam perasaan pada lawan jenis menyakitkan, memendam perasaan dan si dia sudah bersama yang lain, atau memendam perasaan dengan si dia yang entah sekarang ada dimana. Kembali pada prinsip, cara kalian memandang perasaan tersebut, lantas bagaimana kalian menyikapi perasaan tersebut melalui pemahaman kalian dengan cara yang sopan. Well, sebagai manusia yang punya nalar berperasaan tentu saya pernah merasakan.
Dan saya benar-benar kehilangan definisi tentang apa yang saya rasakan. Perasaan yang apabila bertemu dengan si dia senengnya minta ampun, perasaan yang apabila ngobrol-ngobrol sama si dia asyiknya minta ampun, perasaan yang apabila gak ada si dia sepinya minta ampun. Ketika logika saya bertanya, “kenapa bisa semenyenangkan itu?”.
Yah namanya juga cewek, baru semenyenangkan segitu aja sudah naik tangga sampai anak tangga ke-5 padahal anak tangganya ada 10, belum tentu juga yang punya tangga ngizinin tangganya boleh atau tidak diinjak. Kalau sudah seperti ini, gawat. Tapi, pikir dulu “cewek kalau gak merasa dikasih harapan tentu saja gak akan berharap”. Well, pasti akan ada yang membuat pernyataan “nah, makanya jangan banyak berharap atau jangan merasa kalau si dianya ngasih harapan”. Well, sebagai pihak hawa saya tidak menyalahkan adam.
Kalau begitu para hawa, menata perasaan biar apik sedemikian rupa itulah tugas kita. Biar kita tetap patuh dengan ajaran agama, biar kita tidak terjerumus ke dalam kemaksiatan, dan biar kita tidak hanyut dalam harapan-harapan yang kenyataanya kita telah keliru menyimpulkan. Jika masih ada yang mempunyai pikiran “memendam perasaan itu menyakitkan”, saya punya jurus. Ini bukan jurus ala naruto dengan jurus seribu banyangan, atau jurus ala avatar aang dengan jurus pengendali angin, atau  jurus ala-ala yang lain. Jurus ini saya dapatkan dari sederet status di facebook, sederet penyataan orang yang lagi galau. 
 Dan penyataan-penyataan tersebut saya simpulkan menjadi “Jurus Pengendali Diri”. Kenapa jurus pengendali diri?, katakan kita ngebet banget pengen makan mie ayam tapi di tengah malam. Pasti warung mie ayamnya udah tutup. Harus tahan sampai besuk pagi baru bisa menikmati enaknya makan mie ayam. Begitu juga perasaan, kalau kita ngebet keras buat nunjukin perasaan padahal semua itu ada aturannya. Maka mari, kemasi perasaan tersebut simpan rapih ditempat yang keren. Kita hanya perlu tersenyum untuk sebuah rasa sakit, rasa gelisah, dan rasa harapan. Beri rasa-rasa gak enak itu sebuah tembakan senyuman. Sembari menembaki rasa gak enak tersebut dengan senyuman, sembari mengemasi perasaan tersebut dengan keren, mari kita menjadi manusia yang lebih baik, siapa tahu orang yang telah kita pilih namun Tuhan telah memilihkan lebih dari keinginan kita. Percaya saja pada skenario Tuhan.

Ketika saya menulis artikel ini tiba-tiba gempa membuyarkan kosentrasi saya. Saya ambil kesimpulan bahwa ketika kita merasa bahagia, senang dengan dunia ini, kita harus tetap ingat “Tuhan punya kekuasaan yang jauh lebih hebat untuk menghilangkannya”. So, jangan gelisah untuk sebuah perasaan, Tuhan selalu ada dan Cinta terhadap Tuhanlah yang tak pernah menyisakan lubang. Tiada Tuhan selain Allah. Barakallah :)

NB: Semoga kalian menemukan jurus-jurus hebat yang lain.

Surakarta, 25 Januari 2014

Puisi "Beri kemungkinan rasa sakit"



Beri "Kemungkinan" Rasa Sakit

Aku malas mengakui bahwa kita berbeda.
Sebenarnya aku terlalu polos untuk mengartikan gerak-gerikmu.
Bahwa tiap kali kau menanyakan kabar adalah hal yang istimewa bagiku.
Tapi (mungkin) kau juga menanyakan kabar pada siapa saja, dan tak ada syarat istimewa untukku.
Bahwa kepedulianmu selalu aku rasakan, tiap kali kau berbicara.
Tapi (mungkin) kau selalu peduli pada teman-temanmu karena memang itu sifatmu.
Ataukah aku yang hanya merasa kau peduli? Padahal perlakuanmu sama rata pada siapa saja.

“Aku hanya bingung.
Berhentilah membuatku merasa  selalu ada kemungkinan-kemungkinan yang indah padahal hal indah itu adalah perasaan yang kureka sendiri.
Aku selalu merasa gelisah, menebak-nebak tatapanmu.
Tatapanmu yang mengesankan.
Meski aku selalu keras pada hatiku, tapi aku terlalu menebak hal-hal yang indah.
Padahal (mungkin) kau biasa padaku.

Berhentilah melambungkanku dengan kata-kata manismu.
Biar aku tak berasumsi (mungkin) perkataanmu hanya candaan belaka.
Bahkan aku teramat sadar kata-kata manis itu tak lain hanya untuk gadismu.
Bisakah kau berhenti membuatku berharap? Karena tiap kali aku ingin berhenti, tatapanmu selalu meyakinkan untuk kembali mengagumimu.
Aku tidak ingin menjauhimu, aku hanya ingin biar hatiku pergi.
Biar meski ragaku disekelilingmu, namun hatiku tak bisa merasakan harapan.
Karena meski aku sekeras mungkin tak peduli namun hatiku takut kau pergi.
Kenyataannya aku takut tak ada yang peduli padaku, aku takut kau berubah.
Padahal banyak bukti yang memimpinku percaya pada kenyataan bahwa (mungkin) aku keliru.
Tapi hatiku tetap berdiri melihatmu.

Maka, jika kau tak bisa berhenti membuatku berharap, cukup dengan rasa sakit saja kau menyuntikku biar aku tetap ingat kau milik orang lain.
Maka bagiku rasa sakit adalah bahagia.
Bahagia atas perasaanmu padanya.
Bahagia bahwa aku tetap sadar diri.
Bahagia karena meski kenyataannya aku terlalu berharap, aku selalu ingat harapan itu hanya kurasakan sendiri.


Aku mohon beri aku rasa sakit yang lebih dari biasanya.
Entah mengapa, rasa sakit itu cepat menguap karena tatapanmu.
Jika hanya aku yang mencari rasa sakit itu, aku kesulitan meyakinkan hatiku.
Maka beri aku rasa sakit, biar aku lupa pernah memiliki harapan yang indah.
Biar hatiku tak menikung dengan kata “mungkin” ketika kau bersikap manis padaku.

Sekalipun aku malas mengakui bahwa kita berbeda.
Setidaknya dengan rasa sakit, aku bisa merangkak perlahan berhenti mengagumimu.
Karena meski dengan kenyataan tak cukup membuatku berhenti, maka sekali lagi beri aku rasa sakit.”

Surakarta, 27 Januari 2014.