Senin, 03 Maret 2014

Tak Ada Ruang Untukku[?]


my collection Ig
Ah, akhir-akhir ini radak melankolis. Aku ndak tahu harus mulai coretan ini darimana. Sejak 8 Februari yang lalu berlalu, kita beneran beda. Atau memang kau yang sudah berbeda namun aku yang selalu curiga pada hatiku. Curiga. Iya hatiku curiga, jangan-jangan aku tak sungguhan focus pada mimpi-mimpiku. Sibuk merindukanmu kala pagi mengintip. Sibuk memasang ‘alarm’ berharap kau juga merasakan yang sama. Namun hari ini aku benaran sadar!. Kau sungguhan berbeda. Ruang kolom kecil di layar hp saja hanya bersimbol gambar kau tersenyum. Ah, aku bukan pakar emoticon!. Tak ada pembiaraan yang serius memang. Namun bukankah kau masih supel seperti dulu?. Atau kau mulai membenciku? Tidak, aku tidak menuduhmu dengan sembarang prasangka. Sungguhan. Akhir-akhir ini ruang kita, eh bukan, ruangku maksudnya mulai kau abaikan. Bagaimana? Benarkan?. Atau kau mulai mempersilakan masuk tamu yang kau inginkan berada di ruangmu? Begitukah?  Baiklah, jujur saja aku sudah mulai damai dengan hatiku, kau boleh mempersilakan masuk. Teramat boleh. Bukan menjadi keharusan larangan untukmu mulai sekarang tentang ketidakbolehanku. Jadi, mulai sekarang bagaimana kalau aku biarkan kau menjajah duniamu lebih luas tanpa aku harus selalu merasa berharap kau sama? Eh maksudku tanpa aku merasa seperti harus selalu menunggumu, iya. Kau kejar mimpi-mimpimu, aku juga akan mengejar mimpiku. Meski aku tak tahu harus menunggu dengan model sukses yang seperti apa. Tapi aku akan menunggu dengan model sukses yang kupunya. Meski tak ada tempat menunggu selain di sini, ya menunggu kau dan aku sukses. Aku tak mengharuskan kau sukses membuat hidupmu berwarna dengan model menungguku di sini, namun kau harus sukses membuatku tersenyum lega dengan model menungguku di sini. Ya, tersenyum lega ketika kau tak lagi sama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar