Senin, 03 Februari 2014

Surat Kepada Pagi



Kepada Pagi

Kepada pagi yang memecah kantung kegelapan
Kepada pagi yang menggelayutkan tipuan harapan
Kepada pagi yang menyisakan rintik kerinduan
Kepada pagi antara aku, kau, dan bayangan

Kepada Pagi......
Kepada pagi yang memecah kantung kegelapan
Memercikkan harapan baru bagi empunya
Menyiratkan kisah telanjang bak cinta romeo juliet
Kepada pagi yang meyibak aib sang tokoh utama
Memendarkan cahaya kilat menoreh karma

Kepada Pagi.......
Kepada pagi yang memberi kesempatan melihat senyumnya
Membuat noktah terlindungi robek tak terawat
Memuntahkan seisi kesepian bersama luka

Namun kepada pagi.....

Pagi, adalah harapan baru, senyum baru, luka baru.

Wonogiri, 1 Februari 2014


Cacatan Acak


 Cacatan acak #Part 1

 

My  quote “tolong pahami hati sendiri, aku terlalu rapuh kini”.

 



Entah, apakah setiap kata yang tertulis itu berlaku sama pada suatu kejadian. Dan meski kejadian tersebut berbeda alur, namun inti dari kejadian tersebut sama. Quote “tolong pahami hati sendiri, aku terlalu rapuh kini” tertulis pada 8 Agustus 2012. Barangkali diri ini belum cukup dewasa. Setiap  kejadian yang bertolak dengan hati, pikiran ini refleks menerima perintah menuliskan bait tiap kata. Dulu 2012. Tak berhak berkeras hati juga sebenarnya. Sebab setiap hati pasti dibolak-balikkan oleh sang pemilik hidup. Barangkali ketika seseorang memilih untuk pergi,  bukan karena ingin seutuhnya meninggalkan. Buktinya, orang tersebut tak dapat seutuhnya menekan ego perasaannya. Disisi lain menginginkan kehadiran sosok di depannya. Disisi lain masih kuat menggenggam perasaan yang terlampau tertunduk.

 ***



Maka, kau juga harus memahamkan egomu pada orang yang terlampau kau tundukkan perasaannya. Apakah orang tersebut tak menelan setiap perih? Apakah orang tersebut akan berhasil melewati masa kritis karena egomu?. Maka dulu, diri ini hanya meminta kau pahami hati sendiri. Jangan buat seseorang yang telah kau tundukkan perasaannya memintal perasaan buruk. Tegaslah pada hati. Karena perkara hati tak segampang kau menelan air putih. Kau sudah tau bukan, bahwa setiap orang tak sama. Kadang ada yang sudah punya bakat menjadi pemrotes handal, menukik setiap perlakuan yang kau berikan. Kadang ada yang sebaliknya, tak handal dalam menukik perlakuan. Maka berhati-hati dalam bersikap dan pahami hati sendiri.

 



Wonogiri, 3 Februari  2014.

Sabtu, 01 Februari 2014

Tanpa Harap



Tanpa Harap


Hatiku memang tak tembus pandang
Namun bukan berarti tak bisa terasa
Kala seribu pilu menghujam tak berdarah
Namun bukan berarti tak robek terluka
Bahkan rintih suara kalbu tak terdengar telinga manusia

Sungguh…
Jika kau teliti, mata inilah refleksinya
Adalah rasa yang lebih nikmat dari secangkir kopi pait
Menelan sesak diantara paras bersemangat

Bukan masalah kau berlagak baik lantas setiap sembilu menghimpit
Hanya karena perkara kata harapan dusta
Biar kuanggap ringan
Karena memang harapan dusta terlanjur membuai
Biar kukorek habis
Karena memang manusia takkan puas tanpa penyesalan


Surakarta, 1 Januari 2014

Senin, 27 Januari 2014

Kampung Kesedihan Selalu Berlalu



Percayalah, kampung kesedihan selalu berlalu.
Subhanallah, menghargai sesuatu termasuk hal yang teramat sulit juga(ternyata). Karena di dalam kata menghargai terselip satu kata, adalah “IKHLAS”. Bagaimana mungkin tidak sulit, ikhlas menerima harus selalu mencoba berdamai dengan ego kita. Sungguh, saya tidak menyalahkan siapapun dalam berpendapat, merancang kegiatan. Saya juga tidak ingin selalu mementingkan ego. Saya menulis ini, supaya hati ataupun rasa ingin yang besar ini terbalut kelegaan. Barangkali, teman saya membaca ini, sungguh saya menyayangi kalian semua. Waktu memang terus berjalan, bukan? Membawa kita dari satu tempat ke tempat lain. Memisahkan raga yang telah lama bersama. Membuat kita mengerti betapa, ketika kita telah nyaman dengan seorang sahabat dan harus berpisah mengisahkan kenangan yang termat indah. Kenangan yang jika dikenang membuat gundukan rasa “kangen”. Baiklah, saya hanya merasa tidak seberuntung kalian, sahabat. Bergelut dengan keadaan?sungguh,  Saya tidak akan menang. Menelan ketidakbisaanku menikmati setiap  candaan bersama kalian berarti aku harus menghargai keadaan skenario dari Tuhan. Belajar memahami makna kata ikhlas. Pun jika memang saya tidak bisa hadir, saya sungguh menginginkan bisa hadir, bercerita dengan kalian di lain waktu. Karena rasa rindu yang termat besar sehingga ego ini berkontraksi pada keadaan yang terhalang. Meski pertemuan yang terencana ini untuk kedua kalinya saya tidak bisa hadir, saya sungguh berdoa dalam hati. Semoga ego ini selalu luruh karena kenangan yang terukir amat indah. Semoga untuk pertemuan kesekian kali, saya dapat hadir menikmati candaan, senyum, dan cerita bersama kalian. Karena kampung kita tak akan pernah sepi. Kampung yang dihuni beragam senyum,dan semangat yang luar biasa. Dimana ketika kesediahan merenggut kebahagiaan maka akan ada kebahagiaan lain yang menunggu. Percayalah, kampung kesedihan hanyalah ilusi, akan terus berlalu seiring penghuni selau tersenyum. saya hanya percaya pada Tuhan, jikalau hari ini banyak kesedihan yang membalut maka suatu hari nanti kebahagiaanlah yang akan merobek balut kesediahan.

 Allah Maha Adil. ketika saya tidak bisa menikmati canda tawa bersama sahabat yang telah lama tak berjumpa, kebahagiaan lain selalu menunggu. kita hanya perlu memberi kesempatan pada kebahagiaan lain, meski kadar kebahagiaan tersebut berbeda-beda.
acara refreshing bersama teman kampus

otak berfikir mulus



Jurus Andalan
Dalam ranah kehidupan, ada banyak hal yang akan tetap menjadi misteri. Bahkan hidup, jodoh, dan mati pun tak ada satu manusia yang dapat meramalkan. Satu hal yang menurut saya sangat misterius, sesuatu yang nothing appear but we can feel all. Cinta.

 Saya sempat kehilangan definisi tentang cinta setelah mengerti, paham betapa mengerikannya dalam dunia pacaran. Kebanyakan kalau dua anak manusia punya perasaan yang sama lantas mereka menautkan dengan kata pacaran. Menurut saya, jika kalian yang punya perasaan sama, lantas pacaran itu sebuah kesalahan. Kalian akan sama-sama membuat lubang di hati masing-masing, membuat lara. Meski lubang lara ini beda dengan yang punya perasaan namun tersimpan rapih di hati. Memendam perasaan tersebut bukan lagi menjadi lara ketika kita mampu merajut pemahaman yang sopan. Namun,remaja jaman sekarang banyak yang lalai ya, begitu juga dengan diri saya yang masih jauh dengan kesempuranaan.
Mari taubat sahabat-sahabat yang cantik jelita. Pacaran bukan solusi yang pantas diselenggarakan untuk ajang menyatukan perasaan. Meski memendam perasaan pada lawan jenis menyakitkan, memendam perasaan dan si dia sudah bersama yang lain, atau memendam perasaan dengan si dia yang entah sekarang ada dimana. Kembali pada prinsip, cara kalian memandang perasaan tersebut, lantas bagaimana kalian menyikapi perasaan tersebut melalui pemahaman kalian dengan cara yang sopan. Well, sebagai manusia yang punya nalar berperasaan tentu saya pernah merasakan.
Dan saya benar-benar kehilangan definisi tentang apa yang saya rasakan. Perasaan yang apabila bertemu dengan si dia senengnya minta ampun, perasaan yang apabila ngobrol-ngobrol sama si dia asyiknya minta ampun, perasaan yang apabila gak ada si dia sepinya minta ampun. Ketika logika saya bertanya, “kenapa bisa semenyenangkan itu?”.
Yah namanya juga cewek, baru semenyenangkan segitu aja sudah naik tangga sampai anak tangga ke-5 padahal anak tangganya ada 10, belum tentu juga yang punya tangga ngizinin tangganya boleh atau tidak diinjak. Kalau sudah seperti ini, gawat. Tapi, pikir dulu “cewek kalau gak merasa dikasih harapan tentu saja gak akan berharap”. Well, pasti akan ada yang membuat pernyataan “nah, makanya jangan banyak berharap atau jangan merasa kalau si dianya ngasih harapan”. Well, sebagai pihak hawa saya tidak menyalahkan adam.
Kalau begitu para hawa, menata perasaan biar apik sedemikian rupa itulah tugas kita. Biar kita tetap patuh dengan ajaran agama, biar kita tidak terjerumus ke dalam kemaksiatan, dan biar kita tidak hanyut dalam harapan-harapan yang kenyataanya kita telah keliru menyimpulkan. Jika masih ada yang mempunyai pikiran “memendam perasaan itu menyakitkan”, saya punya jurus. Ini bukan jurus ala naruto dengan jurus seribu banyangan, atau jurus ala avatar aang dengan jurus pengendali angin, atau  jurus ala-ala yang lain. Jurus ini saya dapatkan dari sederet status di facebook, sederet penyataan orang yang lagi galau. 
 Dan penyataan-penyataan tersebut saya simpulkan menjadi “Jurus Pengendali Diri”. Kenapa jurus pengendali diri?, katakan kita ngebet banget pengen makan mie ayam tapi di tengah malam. Pasti warung mie ayamnya udah tutup. Harus tahan sampai besuk pagi baru bisa menikmati enaknya makan mie ayam. Begitu juga perasaan, kalau kita ngebet keras buat nunjukin perasaan padahal semua itu ada aturannya. Maka mari, kemasi perasaan tersebut simpan rapih ditempat yang keren. Kita hanya perlu tersenyum untuk sebuah rasa sakit, rasa gelisah, dan rasa harapan. Beri rasa-rasa gak enak itu sebuah tembakan senyuman. Sembari menembaki rasa gak enak tersebut dengan senyuman, sembari mengemasi perasaan tersebut dengan keren, mari kita menjadi manusia yang lebih baik, siapa tahu orang yang telah kita pilih namun Tuhan telah memilihkan lebih dari keinginan kita. Percaya saja pada skenario Tuhan.

Ketika saya menulis artikel ini tiba-tiba gempa membuyarkan kosentrasi saya. Saya ambil kesimpulan bahwa ketika kita merasa bahagia, senang dengan dunia ini, kita harus tetap ingat “Tuhan punya kekuasaan yang jauh lebih hebat untuk menghilangkannya”. So, jangan gelisah untuk sebuah perasaan, Tuhan selalu ada dan Cinta terhadap Tuhanlah yang tak pernah menyisakan lubang. Tiada Tuhan selain Allah. Barakallah :)

NB: Semoga kalian menemukan jurus-jurus hebat yang lain.

Surakarta, 25 Januari 2014