![]() |
| audi-audi.deviantart.com |
Rabu, 26 Februari 2014
:)
Hidup ini (bukan) seperti Akar Gantung
Separuh
hati, kepedulian yang tulus.
Posisi tubuhku
terduduk bersandar tembok samping kosan. Menahan semacam cahaya yang meyilaukan
mata dengan punggung tangan menutup hampir seluruh kedua mataku. Pupil mataku
tak berakomodasi. Sial. Sekadar mengintip dari balik jari-jari meski cahaya itu
terlalu liar menyipitkan pupilku. Cahaya terang itu menampakkan siluet
seseorang berdiri tegak 4 meter dari tempatku terduduk. Aku berusaha berdiri
tegak, sialnya kedua kakiku terjerembap lumpur. Area samping kosan ditanami
padi. Ada pembatas semacam jalan setapak kira-kira dua jengkal. Seseorang itu
mendekat membuat silau sempurna menusuk mukaku. Entahlah, tiba-tiba ada sesuatu
yang lebih dingin dari udara malam ini bagai merambat ke sekujur tubuhku. Dua
detik kemudian cahaya itu lenyap, aku tak bisa melihat apapun di depanku.
Mataku pun berhenti bekerja, gelap seketika.
***
“kau…” dengan nafas terengah aku
meraba apa saja yang ada di dekatku, barangkali menemukan benda yang bisa untuk
membela diri. “aaaaaa…..” splasss!!!!.
“Lili…, syukurlah kau siuman”
suara serak agak cemas perlahan menendang gendang telingaku meski aku masih
dalam keadaan belum normal. Bayangan hitam itu masih menggantung di kedua
kelopak mataku. Hingga aku menyadari goyangan lembut menyentuh tubuhku. Aku
baru tersadar, menata potongan nyata dalam hidup—perlahan . Dua detik kemudian
aku mulai menyadari seseorang di sampingku—yang sedari tadi berusaha membuatku
membuka mata.
“Raini…” aku terkejut setengah
tidak percaya. “jadi, tadi itu mimpi?” aku entah bertanya pada siapa. Masih
bingung menjelaskan ‘sesuatu’ yang berada di ujung lidahku. ‘sesuatu’ yang
hendak ingin kukatakan tapi otakku malas berfikir.
“mimpi? Bukan Li, kau tadi….”
“kau tadi pingsan di kosan” Septian—yang
baru kusadari keberadaannya, dengan cepat memotong penjelasan Raini.
“kau istirahatlah dulu. Jangan
banyak gerak, apalagi pecicilan.” aku mengernyit menatap Septian yang berbicara tanpa melihatku—malah
bersitatap dengan Raini.
“iya Li, tenang aja aku bersedia
nungguin kok” Raini menyetujui kalimat Septian. Aku rasa mereka sengaja
sekongkol. Lihat saja, air muka Raini yang berubah nurut setelah mereka
bersitatap. Aku tak mempeduliakan percakapan mereka—yang bercakap-cakap
mendebatkan sesuatu di luar kamar rumah sakit. Apa yang barusan terjadi. Aku
sibuk menganalisa ‘sesuatu’ yang mengganggu pikiranku. Aku berusaha mengingat
apa yang terjadi 2 jam lalu. Tapi nihil. Mereka juga belum menjelaskan apapun
padaku. Aku terus berfikir. Hingga terlelap.
***
Pagi memendarkan
cahayanya dari balik gedung-gedung tinggi pencakar langit. Aku bersungut-sungut
keluar kamar rumah sakit—milik kampus, menuju lorong tempat tunggu pasien.
Setelah perdebatan yang berhasil menghilangkan moodku sepagi ini. Sial, kenapa mereka harus meminta keterangan
tentang orangtuaku. Di sepanjang lorong, aku tak henti ngomel-ngomel. Aku yang
sebal dengan celotehan perawat rumah sakit berseru kalau hal semacam ini bisa
kuurus sendiri—berlari meninggalkan Raini dan Septian yang sok manis meladeni
perawat itu. Setengah jam kemudian Raini dan Septian menghampiriku. Septian
menegurku lebih dulu. Aku menatap Raini yang urung mengatakan sesuatu—mungkin
sudah menyerah berdebat denganku.
“Li, kami hanya meminta kau
menghubungi orangtuamu. Kami akan lebih tenang, setidaknya sampai teror kemarin
malam nggak terjadi lagi. Kau juga harus chek-up,
kami khawatir dengan kepalamu yang terbalut itu. Jangan-jangan otaknya penyok lagi. Hehe” Septian menasehatiku
setengah bergurau. Aku menatap kosong ke sepanjang lorong, sejurus kemudian
melirik Septian dengan senyum tipis lantas membalas nasehat Septian dengan dua
kali anggukan.
“Li, aku tahu beberapa hari
terakhir kau sibuk sendiri. Entahlah apa yang membuatmu seakan mengindari kami.
Kalau kau memang punya masalah dengan kami, katakana saja. Bukankah itu
peraturan dalam kelas kita?. Tapi perlu kau tahu Li, kami amat peduli denganmu.
Meski kau kadang dingin, tapi kepedulian itu telah lama melekat sejak kau
melempar Daus dengan penghapus. Aku masih ingat, kala itu pemilihan ketua
kelas. Jelas, suasana kelas ramai. Berebut Septian yang pantaslah, Si Asyar-lah,
Zuam-lah. Dan biang kerok akar keributan ya, Si Daus. Haha. Kau jengkel,
refleks mau melempar pengahapus ke papan tulis eh malah kena Si Daus. Ajaibnya,
seisi kelas diam. Tercengang”,Raini sudah duduk disampingku sembari melingkarkan
tangannya ke punggungku. Dengan intonasi agak serak, mungkin menahan sesuatu
yang mendongkol—mencoba menghiburku. Satu menit setelah kami terdiam tenggelam
dalam pikiran masing-masing, Raini berdiri memberi isyarat, yuk pulang.
***
Septian
menyarankanku untuk bermalam beberapa hari di kosan Raini. Awalnya aku ingin
menolak, tapi Raini sudah mencomot alih pembicaraanku dengan Septian.
Sebenarnya aku hanya butuh waktu sendiri, iya hanya aku seorang diri, hatiku
dan keheningan. Kebetulan peristiwa itu terjadi malam sabtu. Dua hari, sabtu
dan minggu aku rasa cukup untuk menenangkan pikiranku yang kacau akhir-akhir
ini. Cukup juga untuk mengemasi rasa sakit, namun hanya aku seorang diri saja
bersama keheningan. Sama seperti sore ini, tiduran di kamar Raini saja rasanya
amat menyebalkan. Aku beranjak meninggalkan Raini yang tertidur pulas—menaiki
anak tangga ke lantai tiga tempat menjemur pakaian. Di lantai tiga tanpa atap
memang tempat yang tepat untuk menyegarkan paru-paru. Bahkan di ketinggian
tempat ini bisa melihat langit, pemandangan tanpa batas. Hanya ada semilir
angin yang memainkan suara khasnya dan keheningan. Banyak yang mesti kupikirkan
sekaligus kuselesaikan bersama keheningan. Satu hal yang membuat pikiranku
selama ini terganjal kenyataan. Iya, kepedulian mereka. Dan ketika malam
merengkuh haknya nanti, pikiranku harus sudah beres. Entahlah, kejadian kemarin
malam teralihkan dengan satu kenyataan yang tersembunyi. Meski kejadian itu
akan berdampak menyeramkan suatu hari nanti. Namun kejadian itu juga
menyiratkan porsi yang amat hebat tentang persahabatanku. Aku menganggap
kepedulian mereka selama ini hanya perlakuan sebagaiamana mestinya orang
bertindak. Ya, hanya wujud mungkin supaya mereka dipedulikan balik. Nyatanya
aku salah. Aku keliru total. Dua hari sebelum peritiwa menyeramkan itu, aku sempat
uring-uringan dengan Septian. Ah, hanya masalah uang kas. Dia pastinya mengerti
benar keadaanku, kita sesama anak kosan. Aku terlalu menelan mentah perkatannya
yang sebenarnya terkesan nyleweng tapi berhubung aku sedang gerah, aku
mengatakan hal yang mestinya tidak aku katakan. Membuat air mukanya berubah
tertunduk. Tapi lihat. Memang benar, kepeduliannya tidak berkurang sesentipun.
Mereka tulus peduli padaku. Hanya saja aku butuh waktu untuk meluruskan arah
pikiranku yang kadung tersesat. Tak apalah kadung tersesat. Beruntunglah, masih
ada separuh hatiku yang cerah untuk menerangi pikiran yang tersesat . Aku
belajar peduli sesama dari mereka. Baiklah, peduli apa pada separuh hatiku yang
masih kelam. Aku masih punya separuh lagi yang mampu berpendar. Setidaknya,
separuh yang cerah akan kuat bertahan menuntunku sampai aku menemukan semua
jawabannya.
…….
Rabu, 19 Februari 2014
Kotor...
Kotor....
Kau
adalah penghalus
kata untuk mempertajam
hati manusia
Supaya
kau tak di acuhkan sia-sia
Rusak
pulalah bumi kita
Kotor...
Kau
adalah bakteri yang membelah dengan cepatnya, tanpa hitungan menit
Tanpa
antigen kau adalah pembunuh bagi penghuni bumi
Tapi kau
memang pantas untuk kejam
Penghuni
bumi tak peduli keberadaanmu, dan hanya segelintir manusia
Kotor...
Aku
menyukaimu jika kau tetap menjadi seni yang dipoles dengan menghapus kata cacat
Maka
itulah tugas kami, para penghuni bumi
Kotor...
Kau
takkan lagi menjijikkan jika
bagai permadani surga
Mengkilat,
harum tiap memapah penghuni bumi
Dan lagi
kami terbuai bersih fatamorgana dunia
Wonogiri,
10 Februari 2014
Aku suka kotor, tapi......
Sebenarnya
kalau boleh jujur, aku lebih suka dengan
motorku yang kotor, belepotan ampas tanah
yang menempel di sudut-sudut ban, dan aku tetap PD menungganginya pergi ke kampus. Pernah suatu hari motorku dicuci
bapak, entah mataku yang rabun atau memang sudah menjadi seleraku. Motorku
nggak keren lagi. Haha. Bagiku kotor itu seni yang perlu polesan. Seperti
biasa, udara dingin di desa menggelitiki hidungku hingga bersin-bersin tak
tertahankan. Ah sebenarnya beberapa hari yang lalu, aku memelototi motorku yang
kacau abis, kotor abis, dan bener-bener seni badai. Baru kali ini aku merasa
nggak tega melihatnya. Huh dengan maksud keterpaksaan aku mencuci motorku. Wow,
ternyata aku baru sadar! Bersih itu biasa saja!. Iya, biasa. Dan sialnya,
ketidak-tegaan-ku menyeruak seketika setelah kemarin sore memelototi motorku
yang sudah kacau abis (lagi). Memang ya, musim hujan selalu melukiskan seni.
Tetes hujan yang bergerombolan membuat lubang-lubang di jalanan. Apalagi
jalanan masuk desa, sudah bukan lagi jalanan. Tepatnya seperti kubangan kerbau
pembajak sawah. Dan itulah seninya. Pagi hari beranjak mengintip masanya.
Setelah salat subuh, aku bergegas memelototi motorku. Yeah, ini adalah seni
kubangan air hujan. Motorku parah lagi, kotor. Udara dingin menelisik ke lubang
hidung menerobos rambut hingga membuat pengar. Ada semacam hasutan ringan di
ujung pengar pagi ini,”kasihani
aku... aku benci kotor”. Aku melepas satu semprotan lega dan lagi lagi karena pengar, bersin. Duh, jangan-jangan ini
pertanda untukku. Baiklah, aku menuntun motorku dengan anggun menuju pelataran
rumah. Oh ya ampun aku nggak bisa kalau harus mengguyur motorku dengan air
sedingin pagi ini. Sama persis sedingin kau padaku, ah sudahlah.
Pagi hari
yang masih menyisakan titik embun, mengepulkan kabut di udara, dan tampilan
motorku yang seni badai. Aku memulai ritual dengan mengguyur jog motor hingga membasahi seluruh
sendi-sendi gerigi motor. Ritual pagi kali ini berjalan mulus, aku sumringah. Teriakan
ibuk menyerang kepulan kabut sepagi itu,”mbak, bajune adike ndang disetlika”.
Tanpa kata yang biasa aku rengekkan, kakiku otomatis menuruti teriakan ibuk.
Apa pula ini, jam dinding yang tertempel sepertinya mengejekku. Pukul 05.45.
Ironisnya dengan waktu yang biasanya sudah aku targetkan, aku tetap santai.
Iya, jadwal hari ini; berangkat ke kampus pukul 06.00 untuk pengambilan KHS.
Dan aku masih di rumah, kampungku. Usai menyetlika seragam adik, aku diminta
ibuk untuk mengantarkan beliau ngirim
makanan. Musim hujan kali ini adalah masa jayanya bagi petani. Musim hujan
bertaburkan panen jagung.
Setelah
melewati jalan licin dan bergeronjal
tibalah di tempat tujuan. Kalau aku bertanya tentang sawah atau ladang, apa yang
ada di otak kalian? Kalau aku sendiri sih “inilah medan pertempuran”. Bagaimana
bisa medan pertempuran? Bayangkan saja, dengan jalan setapak yang hanya
kira-kira 5 jengkal ke samping kanan atau kiri di lewati pulang -pergi para
pengusaha(petani) jagung. Kalian jangan kira jalan setapak ini bak catwalk para
artis, ini jauh lebih ngeri. Lagi pula kan musim hujan. Rerumputan yang grembuyukan hijau menutupi jalan harus
tertunduk. Hanya tersisa di pinggirnya saja sudah belepotan dengan lumpur.
Becek. Aku kewalahan mengikuti langkah ibuk yang lincah menaklukan jerembapan
jalan setapak. Ya, lengah sedikit bisa berkabung dengan lumpur, mandi lumpur.
Bahkan langkahku kalah cepat. Aku yang hanya membawa 2 karung goni, 1 pasang
sandal, dan 1 poci. Sedangkan ibuk menggendong 1 tenggok, kedua tangannya mententeng rantang berisi makanan. Ya,
meski ibuk mengajar di sekolah, namun memiliki beberapa sawah. Jadilah begini
setiap musim panen tiba. Jadi teringat novel Tere-Liye yang berjudul
“Bidadari-Bidadari Surga”. Kak Laisa yang setiap hari membantu emaknya pergi ke
ladang, bekerja keras, mencari rotan ke hutan. Hanya demi adik-adiknya agar
bisa bersekolah. Oke, kembali. Jadi, seperti inikah medan perang para petani?
Pernah terbesit dipikiranku bahwa jadi seorang petani itu menyusahkan, ribet.
Dan sampai pada suatu hari, aku tersadarkan oleh ucapan orangtuaku. Iya, uang
untuk menyekolahkanku tak lain adalah hasil jerih payah mereka mengelola
ladang. Dan ketika hari itu usai, tumbuh keinginan dibenakku. Adalah menjadi
pengusaha palawija. Kedengarannya
memang konyol. Iya, aku baru saja bergelut dengan medan perang para petani.
Kelincahanku kalah telak. Kakiku berwarna hitam oleh kubangan jalan setapak.
Wow, seketika teringat materi biologi, ah. Ini kacaunya. Imajinasiku memenuhi
seisi kepala. Aku melihat kakiku yang kotor penuh lumpur. Ah, pasti banyak
bakteri yang nempel di kakiku. Gimana kalau mereka menembus kulitku? Makan
kakiku?. Haha. Tenang saja, makhluk-makhluk yang bakal nempel nggak mungkin
sampai bikin kakimu berkarat kok. Pastinya setiap karya Tuhan yang merugikan
selalu ada penawarnya. Urusan kaki kotor saja gelehnya minta ampun. Eh giliran motor yang kotor girangnya
kelewatan.
Mungkin ya kalau ada sesuatu yang bikin kita
(terutama manusia) cacat pasti tanpa pikir panjang sebisa mungkin ngilangin itu cacat. Nah, giliran ada
yang cacat sama benda mati, kita malas buat bantu nyempurnain. Tuh, ada yang cacat sama negara kita. Yuk bantu nyempurnain!. Tamparan berat buat sang
penulis. Hehe. Baiklah, mungkin aku memang suka ngeliat motorku kotor, tapi
kalau bagian tubuhku ada yang kotor tentu saja aku nggak suka. Iya, aku nggak
suka bagian tubuhku kotor. Itu wajar
karena kotor akan membuat cacat apa yang semestinya terlihat indah. Iya,
karena cacat itu akan menempel pada identitas kita. Tentu saja kita sayang sama
dirisendiri, identitas kita. Biarlah kotor itu tetap menjadi seni. Tapi seni
yang dipoles dengan menghapus kata cacat. Begitu pula dengan negara kita. Yuk,
eratkan Indonesia bagian
dari identitas kita!.
:)
“Kamu akan merasakan kebosanan akut suatu saat nanti. Ketika dunia
disekitar kita melukiskan banyak warna-warni, dan yang tersisa di dunia
khayalmu hanya seperti potongan-potongan daun kering. Bukan salahmu karena
telah memilih dunia khayal yang amat menyenangkan. Tapi lihatlah dunia kita,
dunia nyata kita. Lukisan dan coretan tercecer di banyak sudut. Lihatlah, hal
itu lebih membuat dunia kita berbicara. Unyu , bukan?”
Senin, 17 Februari 2014
Sajak
Rindu dan Benci
Sesuatu yang bergejolak didadaku serba
tanggung
Kau tiba-tiba datang membuat gejolak itu mekar
indah
Dan kepergianmu secepat kilat memenggal
nadinya
Sesuatu yang bergejolak di dadaku serba sesak
Pesan singkat itu seolah-olah mewujud simpul
senyummu
Aku tak sanggup mengatur baris binar bahagia
Dan ketika kenyataan hariku kosong tanpa
pesanmu
Beribu dentum benci merutuk hatiku
Namun ketika pagi datang kabut rindu
menyelimuti benci semalam
Entahlah, benci membubur bersama rindu
Di ujung rasa benci, rindu selalu sempurna
melemahkan saraf-sarafku
Sungguh, ingin rasanya membunuh sesuatu yang
berkabut menahan sesak
Menyisakan rintik rindu sebelum tetes embun
mengalirkan
Meski kau tetap diam, rindu ini tetap mengalir
anggun menerobos nadi
Dan aku tetap benci merasa rindu telah
menyesakkan dada ini
Jutsu apa yang digunakan rinduku padamu? Aku
tak dapat menganalisa
Kenapa begitu benci setiap menahan kalut
merindumu
Kenyataan aku bukan premaisuri yang anggun
menata hatimu
Aku memang bukan perindu yang cerdik
Aku masih gelisah sejurus kemudian kebencianku
menggerogoti
Mungkin kau adalah rindu yang selalu hidup
dalam gelap kebencianku
Mungkin juga rindu yang tak bisa memendarkan
cahaya karena benciku mencintaimu
Wonogiri, 8 Februari 2014
Senin, 03 Februari 2014
Surat Kepada Pagi
Kepada Pagi
Kepada pagi yang memecah kantung kegelapan
Kepada pagi yang menggelayutkan tipuan harapan
Kepada pagi yang menyisakan rintik kerinduan
Kepada pagi antara aku, kau, dan bayangan
Kepada Pagi......
Kepada pagi yang memecah kantung kegelapan
Memercikkan harapan baru bagi empunya
Menyiratkan kisah telanjang bak cinta romeo juliet
Kepada pagi yang meyibak aib sang tokoh utama
Memendarkan cahaya kilat menoreh karma
Kepada Pagi.......
Kepada pagi yang memberi kesempatan melihat senyumnya
Membuat noktah terlindungi robek tak terawat
Memuntahkan seisi kesepian bersama luka
Namun kepada pagi.....
Pagi, adalah harapan baru, senyum baru, luka baru.
Wonogiri, 1 Februari 2014
Cacatan Acak
Cacatan acak #Part 1
My quote “tolong pahami hati sendiri, aku terlalu rapuh kini”.
Entah, apakah setiap kata yang tertulis itu berlaku sama pada suatu kejadian. Dan meski kejadian tersebut berbeda alur, namun inti dari kejadian tersebut sama. Quote “tolong pahami hati sendiri, aku terlalu rapuh kini” tertulis pada 8 Agustus 2012. Barangkali diri ini belum cukup dewasa. Setiap kejadian yang bertolak dengan hati, pikiran ini refleks menerima perintah menuliskan bait tiap kata. Dulu 2012. Tak berhak berkeras hati juga sebenarnya. Sebab setiap hati pasti dibolak-balikkan oleh sang pemilik hidup. Barangkali ketika seseorang memilih untuk pergi, bukan karena ingin seutuhnya meninggalkan. Buktinya, orang tersebut tak dapat seutuhnya menekan ego perasaannya. Disisi lain menginginkan kehadiran sosok di depannya. Disisi lain masih kuat menggenggam perasaan yang terlampau tertunduk.
***
Maka, kau juga harus memahamkan egomu pada orang yang terlampau kau tundukkan perasaannya. Apakah orang tersebut tak menelan setiap perih? Apakah orang tersebut akan berhasil melewati masa kritis karena egomu?. Maka dulu, diri ini hanya meminta kau pahami hati sendiri. Jangan buat seseorang yang telah kau tundukkan perasaannya memintal perasaan buruk. Tegaslah pada hati. Karena perkara hati tak segampang kau menelan air putih. Kau sudah tau bukan, bahwa setiap orang tak sama. Kadang ada yang sudah punya bakat menjadi pemrotes handal, menukik setiap perlakuan yang kau berikan. Kadang ada yang sebaliknya, tak handal dalam menukik perlakuan. Maka berhati-hati dalam bersikap dan pahami hati sendiri.
Wonogiri, 3 Februari
2014.
Sabtu, 01 Februari 2014
Tanpa Harap
Tanpa
Harap
Hatiku memang tak tembus pandang
Namun bukan berarti tak bisa terasa
Kala seribu pilu menghujam tak
berdarah
Namun bukan berarti tak robek
terluka
Bahkan rintih suara kalbu tak
terdengar telinga manusia
Sungguh…
Jika kau teliti, mata inilah refleksinya
Adalah rasa yang lebih nikmat dari
secangkir kopi pait
Menelan sesak diantara paras
bersemangat
Bukan masalah kau berlagak baik
lantas setiap sembilu menghimpit
Hanya karena perkara kata harapan
dusta
Biar kuanggap ringan
Karena memang harapan dusta
terlanjur membuai
Biar kukorek habis
Karena memang manusia takkan puas
tanpa penyesalan
Surakarta, 1 Januari 2014
Langganan:
Komentar (Atom)

