Rabu, 26 Februari 2014

:)

audi-audi.deviantart.com
“Mungkin aku tampak cuek, judes, sembrono, ketus dan teman-temannya yang lain? Begitu? Ah, jangan merasa seperti itu. Aku mencoba sebaik mungkin menjadi seorang sahabat. Jurus itu hanya aku keluarkan jika kau besikap tak sewajarnya, memberi porsi lebih secara terang-terangan. Bukankah itu hanya akan terkesan ‘brutal’? juga jika aku menganggap aksi brutalmu itu benar-benar nyata apa kau bisa memposisikanku di wadah yang cantik? Belum tentu kan. Pun jika aku tampak cuek, judes belum tentu juga aku sama sekali tak menganalisa kebrutalanmu. Ah, meski begitu aku tetap manusia yang punya hati bukan? Jelas hatiku tak serupa dengan sikapku. Kau ini anak pintar. Aku bahkan jauh terlampau mengagumimu. Sayang sekali, jika kau nanti harus sibuk mengemasi dampak aksi brutalmu. Kau tepat selama ini terus menjadi sahabatku. Tanpa kita harus selalu saling memunafiki. Kita harus punya cara yang berbeda dalam urusan perasaan.”

Hidup ini (bukan) seperti Akar Gantung


Separuh hati, kepedulian yang tulus.

Posisi tubuhku terduduk bersandar tembok samping kosan. Menahan semacam cahaya yang meyilaukan mata dengan punggung tangan menutup hampir seluruh kedua mataku. Pupil mataku tak berakomodasi. Sial. Sekadar mengintip dari balik jari-jari meski cahaya itu terlalu liar menyipitkan pupilku. Cahaya terang itu menampakkan siluet seseorang berdiri tegak 4 meter dari tempatku terduduk. Aku berusaha berdiri tegak, sialnya kedua kakiku terjerembap lumpur. Area samping kosan ditanami padi. Ada pembatas semacam jalan setapak kira-kira dua jengkal. Seseorang itu mendekat membuat silau sempurna menusuk mukaku. Entahlah, tiba-tiba ada sesuatu yang lebih dingin dari udara malam ini bagai merambat ke sekujur tubuhku. Dua detik kemudian cahaya itu lenyap, aku tak bisa melihat apapun di depanku. Mataku pun berhenti bekerja, gelap seketika.
***
“kau…” dengan nafas terengah aku meraba apa saja yang ada di dekatku, barangkali menemukan benda yang bisa untuk membela diri. “aaaaaa…..” splasss!!!!.
“Lili…, syukurlah kau siuman” suara serak agak cemas perlahan menendang gendang telingaku meski aku masih dalam keadaan belum normal. Bayangan hitam itu masih menggantung di kedua kelopak mataku. Hingga aku menyadari goyangan lembut menyentuh tubuhku. Aku baru tersadar, menata potongan nyata dalam hidup—perlahan . Dua detik kemudian aku mulai menyadari seseorang di sampingku—yang sedari tadi berusaha membuatku membuka mata.
“Raini…” aku terkejut setengah tidak percaya. “jadi, tadi itu mimpi?” aku entah bertanya pada siapa. Masih bingung menjelaskan ‘sesuatu’ yang berada di ujung lidahku. ‘sesuatu’ yang hendak ingin kukatakan tapi otakku malas berfikir.
“mimpi? Bukan Li, kau tadi….”
“kau tadi pingsan di kosan” Septian—yang baru kusadari keberadaannya, dengan cepat memotong penjelasan Raini.
“kau istirahatlah dulu. Jangan banyak gerak, apalagi pecicilan.” aku mengernyit menatap  Septian yang berbicara tanpa melihatku—malah bersitatap dengan Raini.
“iya Li, tenang aja aku bersedia nungguin kok” Raini menyetujui kalimat Septian. Aku rasa mereka sengaja sekongkol. Lihat saja, air muka Raini yang berubah nurut setelah mereka bersitatap. Aku tak mempeduliakan percakapan mereka—yang bercakap-cakap mendebatkan sesuatu di luar kamar rumah sakit. Apa yang barusan terjadi. Aku sibuk menganalisa ‘sesuatu’ yang mengganggu pikiranku. Aku berusaha mengingat apa yang terjadi 2 jam lalu. Tapi nihil. Mereka juga belum menjelaskan apapun padaku. Aku terus berfikir. Hingga terlelap.
***
Pagi memendarkan cahayanya dari balik gedung-gedung tinggi pencakar langit. Aku bersungut-sungut keluar kamar rumah sakit—milik kampus, menuju lorong tempat tunggu pasien. Setelah perdebatan yang berhasil menghilangkan moodku sepagi ini. Sial, kenapa mereka harus meminta keterangan tentang orangtuaku. Di sepanjang lorong, aku tak henti ngomel-ngomel. Aku yang sebal dengan celotehan perawat rumah sakit berseru kalau hal semacam ini bisa kuurus sendiri—berlari meninggalkan Raini dan Septian yang sok manis meladeni perawat itu. Setengah jam kemudian Raini dan Septian menghampiriku. Septian menegurku lebih dulu. Aku menatap Raini yang urung mengatakan sesuatu—mungkin sudah menyerah berdebat denganku.
“Li, kami hanya meminta kau menghubungi orangtuamu. Kami akan lebih tenang, setidaknya sampai teror kemarin malam nggak terjadi lagi. Kau juga harus chek-up, kami khawatir dengan kepalamu yang terbalut itu. Jangan-jangan otaknya penyok lagi. Hehe” Septian menasehatiku setengah bergurau. Aku menatap kosong ke sepanjang lorong, sejurus kemudian melirik Septian dengan senyum tipis lantas membalas nasehat Septian dengan dua kali anggukan.
“Li, aku tahu beberapa hari terakhir kau sibuk sendiri. Entahlah apa yang membuatmu seakan mengindari kami. Kalau kau memang punya masalah dengan kami, katakana saja. Bukankah itu peraturan dalam kelas kita?. Tapi perlu kau tahu Li, kami amat peduli denganmu. Meski kau kadang dingin, tapi kepedulian itu telah lama melekat sejak kau melempar Daus dengan penghapus. Aku masih ingat, kala itu pemilihan ketua kelas. Jelas, suasana kelas ramai. Berebut Septian yang pantaslah, Si Asyar-lah, Zuam-lah. Dan biang kerok akar keributan ya, Si Daus. Haha. Kau jengkel, refleks mau melempar pengahapus ke papan tulis eh malah kena Si Daus. Ajaibnya, seisi kelas diam. Tercengang”,Raini sudah duduk disampingku sembari melingkarkan tangannya ke punggungku. Dengan intonasi agak serak, mungkin menahan sesuatu yang mendongkol—mencoba menghiburku. Satu menit setelah kami terdiam tenggelam dalam pikiran masing-masing, Raini berdiri memberi isyarat, yuk pulang.
***
Septian menyarankanku untuk bermalam beberapa hari di kosan Raini. Awalnya aku ingin menolak, tapi Raini sudah mencomot alih pembicaraanku dengan Septian. Sebenarnya aku hanya butuh waktu sendiri, iya hanya aku seorang diri, hatiku dan keheningan. Kebetulan peristiwa itu terjadi malam sabtu. Dua hari, sabtu dan minggu aku rasa cukup untuk menenangkan pikiranku yang kacau akhir-akhir ini. Cukup juga untuk mengemasi rasa sakit, namun hanya aku seorang diri saja bersama keheningan. Sama seperti sore ini, tiduran di kamar Raini saja rasanya amat menyebalkan. Aku beranjak meninggalkan Raini yang tertidur pulas—menaiki anak tangga ke lantai tiga tempat menjemur pakaian. Di lantai tiga tanpa atap memang tempat yang tepat untuk menyegarkan paru-paru. Bahkan di ketinggian tempat ini bisa melihat langit, pemandangan tanpa batas. Hanya ada semilir angin yang memainkan suara khasnya dan keheningan. Banyak yang mesti kupikirkan sekaligus kuselesaikan bersama keheningan. Satu hal yang membuat pikiranku selama ini terganjal kenyataan. Iya, kepedulian mereka. Dan ketika malam merengkuh haknya nanti, pikiranku harus sudah beres. Entahlah, kejadian kemarin malam teralihkan dengan satu kenyataan yang tersembunyi. Meski kejadian itu akan berdampak menyeramkan suatu hari nanti. Namun kejadian itu juga menyiratkan porsi yang amat hebat tentang persahabatanku. Aku menganggap kepedulian mereka selama ini hanya perlakuan sebagaiamana mestinya orang bertindak. Ya, hanya wujud mungkin supaya mereka dipedulikan balik. Nyatanya aku salah. Aku keliru total. Dua hari sebelum peritiwa menyeramkan itu, aku sempat uring-uringan dengan Septian. Ah, hanya masalah uang kas. Dia pastinya mengerti benar keadaanku, kita sesama anak kosan. Aku terlalu menelan mentah perkatannya yang sebenarnya terkesan nyleweng tapi berhubung aku sedang gerah, aku mengatakan hal yang mestinya tidak aku katakan. Membuat air mukanya berubah tertunduk. Tapi lihat. Memang benar, kepeduliannya tidak berkurang sesentipun. Mereka tulus peduli padaku. Hanya saja aku butuh waktu untuk meluruskan arah pikiranku yang kadung tersesat. Tak apalah kadung tersesat. Beruntunglah, masih ada separuh hatiku yang cerah untuk menerangi pikiran yang tersesat . Aku belajar peduli sesama dari mereka. Baiklah, peduli apa pada separuh hatiku yang masih kelam. Aku masih punya separuh lagi yang mampu berpendar. Setidaknya, separuh yang cerah akan kuat bertahan menuntunku sampai aku menemukan semua jawabannya.
…….

Rabu, 19 Februari 2014

Kotor...


Kotor....
Kau adalah penghalus kata untuk mempertajam hati manusia
Supaya kau tak di acuhkan sia-sia
Rusak pulalah bumi kita

Kotor...
Kau adalah bakteri yang membelah dengan cepatnya, tanpa hitungan menit
Tanpa antigen kau adalah pembunuh bagi penghuni bumi
Tapi kau memang pantas untuk kejam
Penghuni bumi tak peduli keberadaanmu, dan hanya segelintir manusia
Kotor...
Aku menyukaimu jika kau tetap menjadi seni yang dipoles dengan menghapus kata       cacat
Maka itulah tugas kami, para penghuni bumi

Kotor...
Kau takkan lagi menjijikkan jika bagai permadani surga
Mengkilat, harum tiap memapah penghuni bumi
Dan lagi kami terbuai bersih fatamorgana dunia

Wonogiri, 10 Februari 2014

Aku suka kotor, tapi......




Sebenarnya kalau boleh jujur,  aku lebih suka dengan motorku yang kotor, belepotan ampas tanah yang menempel di sudut-sudut ban, dan aku tetap PD menungganginya pergi ke kampus. Pernah suatu hari motorku dicuci bapak, entah mataku yang rabun atau memang sudah menjadi seleraku. Motorku nggak keren lagi. Haha. Bagiku kotor itu seni yang perlu polesan. Seperti biasa, udara dingin di desa menggelitiki hidungku hingga bersin-bersin tak tertahankan. Ah sebenarnya beberapa hari yang lalu, aku memelototi motorku yang kacau abis, kotor abis, dan bener-bener seni badai. Baru kali ini aku merasa nggak tega melihatnya. Huh dengan maksud keterpaksaan aku mencuci motorku. Wow, ternyata aku baru sadar! Bersih itu biasa saja!. Iya, biasa. Dan sialnya, ketidak-tegaan-ku menyeruak seketika setelah kemarin sore memelototi motorku yang sudah kacau abis (lagi). Memang ya, musim hujan selalu melukiskan seni. Tetes hujan yang bergerombolan membuat lubang-lubang di jalanan. Apalagi jalanan masuk desa, sudah bukan lagi jalanan. Tepatnya seperti kubangan kerbau pembajak sawah. Dan itulah seninya. Pagi hari beranjak mengintip masanya. Setelah salat subuh, aku bergegas memelototi motorku. Yeah, ini adalah seni kubangan air hujan. Motorku parah lagi, kotor. Udara dingin menelisik ke lubang hidung menerobos rambut hingga membuat  pengar. Ada semacam hasutan ringan di ujung pengar pagi ini,”kasihani aku... aku benci kotor”. Aku melepas satu semprotan lega dan lagi lagi karena pengar, bersin. Duh, jangan-jangan ini pertanda untukku. Baiklah, aku menuntun motorku dengan anggun menuju pelataran rumah. Oh ya ampun aku nggak bisa kalau harus mengguyur motorku dengan air sedingin pagi ini. Sama persis sedingin kau padaku, ah sudahlah.
Pagi hari yang masih menyisakan titik embun, mengepulkan kabut di udara, dan tampilan motorku yang seni badai. Aku memulai ritual dengan mengguyur jog motor hingga membasahi seluruh sendi-sendi gerigi motor. Ritual pagi kali ini berjalan mulus, aku sumringah. Teriakan ibuk menyerang kepulan kabut sepagi itu,”mbak, bajune adike ndang disetlika”. Tanpa kata yang biasa aku rengekkan, kakiku otomatis menuruti teriakan ibuk. Apa pula ini, jam dinding yang tertempel sepertinya mengejekku. Pukul 05.45. Ironisnya dengan waktu yang biasanya sudah aku targetkan, aku tetap santai. Iya, jadwal hari ini; berangkat ke kampus pukul 06.00 untuk pengambilan KHS. Dan aku masih di rumah, kampungku. Usai menyetlika seragam adik, aku diminta ibuk untuk mengantarkan beliau ngirim makanan. Musim hujan kali ini adalah masa jayanya bagi petani. Musim hujan bertaburkan panen jagung.
Setelah melewati jalan licin dan bergeronjal tibalah di tempat tujuan. Kalau aku bertanya tentang sawah atau ladang, apa yang ada di otak kalian? Kalau aku sendiri sih “inilah medan pertempuran”. Bagaimana bisa medan pertempuran? Bayangkan saja, dengan jalan setapak yang hanya kira-kira 5 jengkal ke samping kanan atau kiri di lewati pulang -pergi para pengusaha(petani) jagung. Kalian jangan kira jalan setapak ini bak catwalk para artis, ini jauh lebih ngeri. Lagi pula kan musim hujan. Rerumputan yang grembuyukan hijau menutupi jalan harus tertunduk. Hanya tersisa di pinggirnya saja sudah belepotan dengan lumpur. Becek. Aku kewalahan mengikuti langkah ibuk yang lincah menaklukan jerembapan jalan setapak. Ya, lengah sedikit bisa berkabung dengan lumpur, mandi lumpur. Bahkan langkahku kalah cepat. Aku yang hanya membawa 2 karung goni, 1 pasang sandal, dan 1 poci. Sedangkan ibuk menggendong 1 tenggok, kedua tangannya mententeng rantang berisi makanan. Ya, meski ibuk mengajar di sekolah, namun memiliki beberapa sawah. Jadilah begini setiap musim panen tiba. Jadi teringat novel Tere-Liye yang berjudul “Bidadari-Bidadari Surga”. Kak Laisa yang setiap hari membantu emaknya pergi ke ladang, bekerja keras, mencari rotan ke hutan. Hanya demi adik-adiknya agar bisa bersekolah. Oke, kembali. Jadi, seperti inikah medan perang para petani? Pernah terbesit dipikiranku bahwa jadi seorang petani itu menyusahkan, ribet. Dan sampai pada suatu hari, aku tersadarkan oleh ucapan orangtuaku. Iya, uang untuk menyekolahkanku tak lain adalah hasil jerih payah mereka mengelola ladang. Dan ketika hari itu usai, tumbuh keinginan dibenakku. Adalah menjadi pengusaha palawija. Kedengarannya memang konyol. Iya, aku baru saja bergelut dengan medan perang para petani. Kelincahanku kalah telak. Kakiku berwarna hitam oleh kubangan jalan setapak. Wow, seketika teringat materi biologi, ah. Ini kacaunya. Imajinasiku memenuhi seisi kepala. Aku melihat kakiku yang kotor penuh lumpur. Ah, pasti banyak bakteri yang nempel di kakiku. Gimana kalau mereka menembus kulitku? Makan kakiku?. Haha. Tenang saja, makhluk-makhluk yang bakal nempel nggak mungkin sampai bikin kakimu berkarat kok. Pastinya setiap karya Tuhan yang merugikan selalu ada penawarnya. Urusan kaki kotor saja gelehnya minta ampun. Eh giliran motor yang kotor girangnya kelewatan.
Mungkin  ya kalau ada sesuatu yang bikin kita (terutama manusia) cacat pasti tanpa pikir panjang sebisa mungkin ngilangin itu cacat. Nah, giliran ada yang cacat sama benda mati, kita malas buat bantu nyempurnain. Tuh, ada yang cacat sama negara kita. Yuk bantu nyempurnain!. Tamparan berat buat sang penulis. Hehe. Baiklah, mungkin aku memang suka ngeliat motorku kotor, tapi kalau bagian tubuhku ada yang kotor tentu saja aku nggak suka. Iya, aku nggak suka bagian tubuhku kotor. Itu wajar karena kotor akan membuat cacat apa yang semestinya terlihat indah. Iya, karena cacat itu akan menempel pada identitas kita. Tentu saja kita sayang sama dirisendiri, identitas kita. Biarlah kotor itu tetap menjadi seni. Tapi seni yang dipoles dengan menghapus kata cacat. Begitu pula dengan negara kita. Yuk, eratkan Indonesia bagian dari identitas kita!.

:)


audi-audi.deviantart.com

“Kamu akan merasakan kebosanan akut suatu saat nanti. Ketika dunia disekitar kita melukiskan banyak warna-warni, dan yang tersisa di dunia khayalmu hanya seperti potongan-potongan daun kering. Bukan salahmu karena telah memilih dunia khayal yang amat menyenangkan. Tapi lihatlah dunia kita, dunia nyata kita. Lukisan dan coretan tercecer di banyak sudut. Lihatlah, hal itu lebih membuat dunia kita berbicara. Unyu , bukan?”

Senin, 17 Februari 2014

Sajak

Rindu dan Benci

Sesuatu yang bergejolak didadaku serba tanggung
Kau tiba-tiba datang membuat gejolak itu mekar indah
Dan kepergianmu secepat kilat memenggal nadinya
Sesuatu yang bergejolak di dadaku serba sesak
Pesan singkat itu seolah-olah mewujud simpul senyummu
Aku tak sanggup mengatur baris binar bahagia
Dan ketika kenyataan hariku kosong tanpa pesanmu
Beribu dentum benci merutuk hatiku

Namun ketika pagi datang kabut rindu menyelimuti benci semalam
Entahlah, benci membubur bersama rindu

Di ujung rasa benci, rindu selalu sempurna melemahkan saraf-sarafku
Sungguh, ingin rasanya membunuh sesuatu yang berkabut menahan sesak
Menyisakan rintik rindu sebelum tetes embun mengalirkan

Meski kau tetap diam, rindu ini tetap mengalir anggun menerobos nadi
Dan aku tetap benci merasa rindu telah menyesakkan dada ini
Jutsu apa yang digunakan rinduku padamu? Aku tak dapat menganalisa
Kenapa begitu benci setiap menahan kalut merindumu

Kenyataan aku bukan premaisuri yang anggun menata hatimu
Aku memang bukan perindu yang cerdik
Aku masih gelisah sejurus kemudian kebencianku menggerogoti

Mungkin kau adalah rindu yang selalu hidup dalam gelap kebencianku
Mungkin juga rindu yang tak bisa memendarkan cahaya karena benciku mencintaimu

Wonogiri, 8 Februari 2014


Senin, 03 Februari 2014

Surat Kepada Pagi



Kepada Pagi

Kepada pagi yang memecah kantung kegelapan
Kepada pagi yang menggelayutkan tipuan harapan
Kepada pagi yang menyisakan rintik kerinduan
Kepada pagi antara aku, kau, dan bayangan

Kepada Pagi......
Kepada pagi yang memecah kantung kegelapan
Memercikkan harapan baru bagi empunya
Menyiratkan kisah telanjang bak cinta romeo juliet
Kepada pagi yang meyibak aib sang tokoh utama
Memendarkan cahaya kilat menoreh karma

Kepada Pagi.......
Kepada pagi yang memberi kesempatan melihat senyumnya
Membuat noktah terlindungi robek tak terawat
Memuntahkan seisi kesepian bersama luka

Namun kepada pagi.....

Pagi, adalah harapan baru, senyum baru, luka baru.

Wonogiri, 1 Februari 2014


Cacatan Acak


 Cacatan acak #Part 1

 

My  quote “tolong pahami hati sendiri, aku terlalu rapuh kini”.

 



Entah, apakah setiap kata yang tertulis itu berlaku sama pada suatu kejadian. Dan meski kejadian tersebut berbeda alur, namun inti dari kejadian tersebut sama. Quote “tolong pahami hati sendiri, aku terlalu rapuh kini” tertulis pada 8 Agustus 2012. Barangkali diri ini belum cukup dewasa. Setiap  kejadian yang bertolak dengan hati, pikiran ini refleks menerima perintah menuliskan bait tiap kata. Dulu 2012. Tak berhak berkeras hati juga sebenarnya. Sebab setiap hati pasti dibolak-balikkan oleh sang pemilik hidup. Barangkali ketika seseorang memilih untuk pergi,  bukan karena ingin seutuhnya meninggalkan. Buktinya, orang tersebut tak dapat seutuhnya menekan ego perasaannya. Disisi lain menginginkan kehadiran sosok di depannya. Disisi lain masih kuat menggenggam perasaan yang terlampau tertunduk.

 ***



Maka, kau juga harus memahamkan egomu pada orang yang terlampau kau tundukkan perasaannya. Apakah orang tersebut tak menelan setiap perih? Apakah orang tersebut akan berhasil melewati masa kritis karena egomu?. Maka dulu, diri ini hanya meminta kau pahami hati sendiri. Jangan buat seseorang yang telah kau tundukkan perasaannya memintal perasaan buruk. Tegaslah pada hati. Karena perkara hati tak segampang kau menelan air putih. Kau sudah tau bukan, bahwa setiap orang tak sama. Kadang ada yang sudah punya bakat menjadi pemrotes handal, menukik setiap perlakuan yang kau berikan. Kadang ada yang sebaliknya, tak handal dalam menukik perlakuan. Maka berhati-hati dalam bersikap dan pahami hati sendiri.

 



Wonogiri, 3 Februari  2014.

Sabtu, 01 Februari 2014

Tanpa Harap



Tanpa Harap


Hatiku memang tak tembus pandang
Namun bukan berarti tak bisa terasa
Kala seribu pilu menghujam tak berdarah
Namun bukan berarti tak robek terluka
Bahkan rintih suara kalbu tak terdengar telinga manusia

Sungguh…
Jika kau teliti, mata inilah refleksinya
Adalah rasa yang lebih nikmat dari secangkir kopi pait
Menelan sesak diantara paras bersemangat

Bukan masalah kau berlagak baik lantas setiap sembilu menghimpit
Hanya karena perkara kata harapan dusta
Biar kuanggap ringan
Karena memang harapan dusta terlanjur membuai
Biar kukorek habis
Karena memang manusia takkan puas tanpa penyesalan


Surakarta, 1 Januari 2014