Rabu, 19 Februari 2014

Aku suka kotor, tapi......




Sebenarnya kalau boleh jujur,  aku lebih suka dengan motorku yang kotor, belepotan ampas tanah yang menempel di sudut-sudut ban, dan aku tetap PD menungganginya pergi ke kampus. Pernah suatu hari motorku dicuci bapak, entah mataku yang rabun atau memang sudah menjadi seleraku. Motorku nggak keren lagi. Haha. Bagiku kotor itu seni yang perlu polesan. Seperti biasa, udara dingin di desa menggelitiki hidungku hingga bersin-bersin tak tertahankan. Ah sebenarnya beberapa hari yang lalu, aku memelototi motorku yang kacau abis, kotor abis, dan bener-bener seni badai. Baru kali ini aku merasa nggak tega melihatnya. Huh dengan maksud keterpaksaan aku mencuci motorku. Wow, ternyata aku baru sadar! Bersih itu biasa saja!. Iya, biasa. Dan sialnya, ketidak-tegaan-ku menyeruak seketika setelah kemarin sore memelototi motorku yang sudah kacau abis (lagi). Memang ya, musim hujan selalu melukiskan seni. Tetes hujan yang bergerombolan membuat lubang-lubang di jalanan. Apalagi jalanan masuk desa, sudah bukan lagi jalanan. Tepatnya seperti kubangan kerbau pembajak sawah. Dan itulah seninya. Pagi hari beranjak mengintip masanya. Setelah salat subuh, aku bergegas memelototi motorku. Yeah, ini adalah seni kubangan air hujan. Motorku parah lagi, kotor. Udara dingin menelisik ke lubang hidung menerobos rambut hingga membuat  pengar. Ada semacam hasutan ringan di ujung pengar pagi ini,”kasihani aku... aku benci kotor”. Aku melepas satu semprotan lega dan lagi lagi karena pengar, bersin. Duh, jangan-jangan ini pertanda untukku. Baiklah, aku menuntun motorku dengan anggun menuju pelataran rumah. Oh ya ampun aku nggak bisa kalau harus mengguyur motorku dengan air sedingin pagi ini. Sama persis sedingin kau padaku, ah sudahlah.
Pagi hari yang masih menyisakan titik embun, mengepulkan kabut di udara, dan tampilan motorku yang seni badai. Aku memulai ritual dengan mengguyur jog motor hingga membasahi seluruh sendi-sendi gerigi motor. Ritual pagi kali ini berjalan mulus, aku sumringah. Teriakan ibuk menyerang kepulan kabut sepagi itu,”mbak, bajune adike ndang disetlika”. Tanpa kata yang biasa aku rengekkan, kakiku otomatis menuruti teriakan ibuk. Apa pula ini, jam dinding yang tertempel sepertinya mengejekku. Pukul 05.45. Ironisnya dengan waktu yang biasanya sudah aku targetkan, aku tetap santai. Iya, jadwal hari ini; berangkat ke kampus pukul 06.00 untuk pengambilan KHS. Dan aku masih di rumah, kampungku. Usai menyetlika seragam adik, aku diminta ibuk untuk mengantarkan beliau ngirim makanan. Musim hujan kali ini adalah masa jayanya bagi petani. Musim hujan bertaburkan panen jagung.
Setelah melewati jalan licin dan bergeronjal tibalah di tempat tujuan. Kalau aku bertanya tentang sawah atau ladang, apa yang ada di otak kalian? Kalau aku sendiri sih “inilah medan pertempuran”. Bagaimana bisa medan pertempuran? Bayangkan saja, dengan jalan setapak yang hanya kira-kira 5 jengkal ke samping kanan atau kiri di lewati pulang -pergi para pengusaha(petani) jagung. Kalian jangan kira jalan setapak ini bak catwalk para artis, ini jauh lebih ngeri. Lagi pula kan musim hujan. Rerumputan yang grembuyukan hijau menutupi jalan harus tertunduk. Hanya tersisa di pinggirnya saja sudah belepotan dengan lumpur. Becek. Aku kewalahan mengikuti langkah ibuk yang lincah menaklukan jerembapan jalan setapak. Ya, lengah sedikit bisa berkabung dengan lumpur, mandi lumpur. Bahkan langkahku kalah cepat. Aku yang hanya membawa 2 karung goni, 1 pasang sandal, dan 1 poci. Sedangkan ibuk menggendong 1 tenggok, kedua tangannya mententeng rantang berisi makanan. Ya, meski ibuk mengajar di sekolah, namun memiliki beberapa sawah. Jadilah begini setiap musim panen tiba. Jadi teringat novel Tere-Liye yang berjudul “Bidadari-Bidadari Surga”. Kak Laisa yang setiap hari membantu emaknya pergi ke ladang, bekerja keras, mencari rotan ke hutan. Hanya demi adik-adiknya agar bisa bersekolah. Oke, kembali. Jadi, seperti inikah medan perang para petani? Pernah terbesit dipikiranku bahwa jadi seorang petani itu menyusahkan, ribet. Dan sampai pada suatu hari, aku tersadarkan oleh ucapan orangtuaku. Iya, uang untuk menyekolahkanku tak lain adalah hasil jerih payah mereka mengelola ladang. Dan ketika hari itu usai, tumbuh keinginan dibenakku. Adalah menjadi pengusaha palawija. Kedengarannya memang konyol. Iya, aku baru saja bergelut dengan medan perang para petani. Kelincahanku kalah telak. Kakiku berwarna hitam oleh kubangan jalan setapak. Wow, seketika teringat materi biologi, ah. Ini kacaunya. Imajinasiku memenuhi seisi kepala. Aku melihat kakiku yang kotor penuh lumpur. Ah, pasti banyak bakteri yang nempel di kakiku. Gimana kalau mereka menembus kulitku? Makan kakiku?. Haha. Tenang saja, makhluk-makhluk yang bakal nempel nggak mungkin sampai bikin kakimu berkarat kok. Pastinya setiap karya Tuhan yang merugikan selalu ada penawarnya. Urusan kaki kotor saja gelehnya minta ampun. Eh giliran motor yang kotor girangnya kelewatan.
Mungkin  ya kalau ada sesuatu yang bikin kita (terutama manusia) cacat pasti tanpa pikir panjang sebisa mungkin ngilangin itu cacat. Nah, giliran ada yang cacat sama benda mati, kita malas buat bantu nyempurnain. Tuh, ada yang cacat sama negara kita. Yuk bantu nyempurnain!. Tamparan berat buat sang penulis. Hehe. Baiklah, mungkin aku memang suka ngeliat motorku kotor, tapi kalau bagian tubuhku ada yang kotor tentu saja aku nggak suka. Iya, aku nggak suka bagian tubuhku kotor. Itu wajar karena kotor akan membuat cacat apa yang semestinya terlihat indah. Iya, karena cacat itu akan menempel pada identitas kita. Tentu saja kita sayang sama dirisendiri, identitas kita. Biarlah kotor itu tetap menjadi seni. Tapi seni yang dipoles dengan menghapus kata cacat. Begitu pula dengan negara kita. Yuk, eratkan Indonesia bagian dari identitas kita!.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar