Sebenarnya
kalau boleh jujur, aku lebih suka dengan
motorku yang kotor, belepotan ampas tanah
yang menempel di sudut-sudut ban, dan aku tetap PD menungganginya pergi ke kampus. Pernah suatu hari motorku dicuci
bapak, entah mataku yang rabun atau memang sudah menjadi seleraku. Motorku
nggak keren lagi. Haha. Bagiku kotor itu seni yang perlu polesan. Seperti
biasa, udara dingin di desa menggelitiki hidungku hingga bersin-bersin tak
tertahankan. Ah sebenarnya beberapa hari yang lalu, aku memelototi motorku yang
kacau abis, kotor abis, dan bener-bener seni badai. Baru kali ini aku merasa
nggak tega melihatnya. Huh dengan maksud keterpaksaan aku mencuci motorku. Wow,
ternyata aku baru sadar! Bersih itu biasa saja!. Iya, biasa. Dan sialnya,
ketidak-tegaan-ku menyeruak seketika setelah kemarin sore memelototi motorku
yang sudah kacau abis (lagi). Memang ya, musim hujan selalu melukiskan seni.
Tetes hujan yang bergerombolan membuat lubang-lubang di jalanan. Apalagi
jalanan masuk desa, sudah bukan lagi jalanan. Tepatnya seperti kubangan kerbau
pembajak sawah. Dan itulah seninya. Pagi hari beranjak mengintip masanya.
Setelah salat subuh, aku bergegas memelototi motorku. Yeah, ini adalah seni
kubangan air hujan. Motorku parah lagi, kotor. Udara dingin menelisik ke lubang
hidung menerobos rambut hingga membuat pengar. Ada semacam hasutan ringan di
ujung pengar pagi ini,”kasihani
aku... aku benci kotor”. Aku melepas satu semprotan lega dan lagi lagi karena pengar, bersin. Duh, jangan-jangan ini
pertanda untukku. Baiklah, aku menuntun motorku dengan anggun menuju pelataran
rumah. Oh ya ampun aku nggak bisa kalau harus mengguyur motorku dengan air
sedingin pagi ini. Sama persis sedingin kau padaku, ah sudahlah.
Pagi hari
yang masih menyisakan titik embun, mengepulkan kabut di udara, dan tampilan
motorku yang seni badai. Aku memulai ritual dengan mengguyur jog motor hingga membasahi seluruh
sendi-sendi gerigi motor. Ritual pagi kali ini berjalan mulus, aku sumringah. Teriakan
ibuk menyerang kepulan kabut sepagi itu,”mbak, bajune adike ndang disetlika”.
Tanpa kata yang biasa aku rengekkan, kakiku otomatis menuruti teriakan ibuk.
Apa pula ini, jam dinding yang tertempel sepertinya mengejekku. Pukul 05.45.
Ironisnya dengan waktu yang biasanya sudah aku targetkan, aku tetap santai.
Iya, jadwal hari ini; berangkat ke kampus pukul 06.00 untuk pengambilan KHS.
Dan aku masih di rumah, kampungku. Usai menyetlika seragam adik, aku diminta
ibuk untuk mengantarkan beliau ngirim
makanan. Musim hujan kali ini adalah masa jayanya bagi petani. Musim hujan
bertaburkan panen jagung.
Setelah
melewati jalan licin dan bergeronjal
tibalah di tempat tujuan. Kalau aku bertanya tentang sawah atau ladang, apa yang
ada di otak kalian? Kalau aku sendiri sih “inilah medan pertempuran”. Bagaimana
bisa medan pertempuran? Bayangkan saja, dengan jalan setapak yang hanya
kira-kira 5 jengkal ke samping kanan atau kiri di lewati pulang -pergi para
pengusaha(petani) jagung. Kalian jangan kira jalan setapak ini bak catwalk para
artis, ini jauh lebih ngeri. Lagi pula kan musim hujan. Rerumputan yang grembuyukan hijau menutupi jalan harus
tertunduk. Hanya tersisa di pinggirnya saja sudah belepotan dengan lumpur.
Becek. Aku kewalahan mengikuti langkah ibuk yang lincah menaklukan jerembapan
jalan setapak. Ya, lengah sedikit bisa berkabung dengan lumpur, mandi lumpur.
Bahkan langkahku kalah cepat. Aku yang hanya membawa 2 karung goni, 1 pasang
sandal, dan 1 poci. Sedangkan ibuk menggendong 1 tenggok, kedua tangannya mententeng rantang berisi makanan. Ya,
meski ibuk mengajar di sekolah, namun memiliki beberapa sawah. Jadilah begini
setiap musim panen tiba. Jadi teringat novel Tere-Liye yang berjudul
“Bidadari-Bidadari Surga”. Kak Laisa yang setiap hari membantu emaknya pergi ke
ladang, bekerja keras, mencari rotan ke hutan. Hanya demi adik-adiknya agar
bisa bersekolah. Oke, kembali. Jadi, seperti inikah medan perang para petani?
Pernah terbesit dipikiranku bahwa jadi seorang petani itu menyusahkan, ribet.
Dan sampai pada suatu hari, aku tersadarkan oleh ucapan orangtuaku. Iya, uang
untuk menyekolahkanku tak lain adalah hasil jerih payah mereka mengelola
ladang. Dan ketika hari itu usai, tumbuh keinginan dibenakku. Adalah menjadi
pengusaha palawija. Kedengarannya
memang konyol. Iya, aku baru saja bergelut dengan medan perang para petani.
Kelincahanku kalah telak. Kakiku berwarna hitam oleh kubangan jalan setapak.
Wow, seketika teringat materi biologi, ah. Ini kacaunya. Imajinasiku memenuhi
seisi kepala. Aku melihat kakiku yang kotor penuh lumpur. Ah, pasti banyak
bakteri yang nempel di kakiku. Gimana kalau mereka menembus kulitku? Makan
kakiku?. Haha. Tenang saja, makhluk-makhluk yang bakal nempel nggak mungkin
sampai bikin kakimu berkarat kok. Pastinya setiap karya Tuhan yang merugikan
selalu ada penawarnya. Urusan kaki kotor saja gelehnya minta ampun. Eh giliran motor yang kotor girangnya
kelewatan.
Mungkin ya kalau ada sesuatu yang bikin kita
(terutama manusia) cacat pasti tanpa pikir panjang sebisa mungkin ngilangin itu cacat. Nah, giliran ada
yang cacat sama benda mati, kita malas buat bantu nyempurnain. Tuh, ada yang cacat sama negara kita. Yuk bantu nyempurnain!. Tamparan berat buat sang
penulis. Hehe. Baiklah, mungkin aku memang suka ngeliat motorku kotor, tapi
kalau bagian tubuhku ada yang kotor tentu saja aku nggak suka. Iya, aku nggak
suka bagian tubuhku kotor. Itu wajar
karena kotor akan membuat cacat apa yang semestinya terlihat indah. Iya,
karena cacat itu akan menempel pada identitas kita. Tentu saja kita sayang sama
dirisendiri, identitas kita. Biarlah kotor itu tetap menjadi seni. Tapi seni
yang dipoles dengan menghapus kata cacat. Begitu pula dengan negara kita. Yuk,
eratkan Indonesia bagian
dari identitas kita!.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar