Senin, 17 Februari 2014

Sajak

Rindu dan Benci

Sesuatu yang bergejolak didadaku serba tanggung
Kau tiba-tiba datang membuat gejolak itu mekar indah
Dan kepergianmu secepat kilat memenggal nadinya
Sesuatu yang bergejolak di dadaku serba sesak
Pesan singkat itu seolah-olah mewujud simpul senyummu
Aku tak sanggup mengatur baris binar bahagia
Dan ketika kenyataan hariku kosong tanpa pesanmu
Beribu dentum benci merutuk hatiku

Namun ketika pagi datang kabut rindu menyelimuti benci semalam
Entahlah, benci membubur bersama rindu

Di ujung rasa benci, rindu selalu sempurna melemahkan saraf-sarafku
Sungguh, ingin rasanya membunuh sesuatu yang berkabut menahan sesak
Menyisakan rintik rindu sebelum tetes embun mengalirkan

Meski kau tetap diam, rindu ini tetap mengalir anggun menerobos nadi
Dan aku tetap benci merasa rindu telah menyesakkan dada ini
Jutsu apa yang digunakan rinduku padamu? Aku tak dapat menganalisa
Kenapa begitu benci setiap menahan kalut merindumu

Kenyataan aku bukan premaisuri yang anggun menata hatimu
Aku memang bukan perindu yang cerdik
Aku masih gelisah sejurus kemudian kebencianku menggerogoti

Mungkin kau adalah rindu yang selalu hidup dalam gelap kebencianku
Mungkin juga rindu yang tak bisa memendarkan cahaya karena benciku mencintaimu

Wonogiri, 8 Februari 2014


Tidak ada komentar:

Posting Komentar