Rindu dan Benci
Sesuatu yang bergejolak didadaku serba
tanggung
Kau tiba-tiba datang membuat gejolak itu mekar
indah
Dan kepergianmu secepat kilat memenggal
nadinya
Sesuatu yang bergejolak di dadaku serba sesak
Pesan singkat itu seolah-olah mewujud simpul
senyummu
Aku tak sanggup mengatur baris binar bahagia
Dan ketika kenyataan hariku kosong tanpa
pesanmu
Beribu dentum benci merutuk hatiku
Namun ketika pagi datang kabut rindu
menyelimuti benci semalam
Entahlah, benci membubur bersama rindu
Di ujung rasa benci, rindu selalu sempurna
melemahkan saraf-sarafku
Sungguh, ingin rasanya membunuh sesuatu yang
berkabut menahan sesak
Menyisakan rintik rindu sebelum tetes embun
mengalirkan
Meski kau tetap diam, rindu ini tetap mengalir
anggun menerobos nadi
Dan aku tetap benci merasa rindu telah
menyesakkan dada ini
Jutsu apa yang digunakan rinduku padamu? Aku
tak dapat menganalisa
Kenapa begitu benci setiap menahan kalut
merindumu
Kenyataan aku bukan premaisuri yang anggun
menata hatimu
Aku memang bukan perindu yang cerdik
Aku masih gelisah sejurus kemudian kebencianku
menggerogoti
Mungkin kau adalah rindu yang selalu hidup
dalam gelap kebencianku
Mungkin juga rindu yang tak bisa memendarkan
cahaya karena benciku mencintaimu
Wonogiri, 8 Februari 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar