Rabu, 26 Februari 2014

Hidup ini (bukan) seperti Akar Gantung


Separuh hati, kepedulian yang tulus.

Posisi tubuhku terduduk bersandar tembok samping kosan. Menahan semacam cahaya yang meyilaukan mata dengan punggung tangan menutup hampir seluruh kedua mataku. Pupil mataku tak berakomodasi. Sial. Sekadar mengintip dari balik jari-jari meski cahaya itu terlalu liar menyipitkan pupilku. Cahaya terang itu menampakkan siluet seseorang berdiri tegak 4 meter dari tempatku terduduk. Aku berusaha berdiri tegak, sialnya kedua kakiku terjerembap lumpur. Area samping kosan ditanami padi. Ada pembatas semacam jalan setapak kira-kira dua jengkal. Seseorang itu mendekat membuat silau sempurna menusuk mukaku. Entahlah, tiba-tiba ada sesuatu yang lebih dingin dari udara malam ini bagai merambat ke sekujur tubuhku. Dua detik kemudian cahaya itu lenyap, aku tak bisa melihat apapun di depanku. Mataku pun berhenti bekerja, gelap seketika.
***
“kau…” dengan nafas terengah aku meraba apa saja yang ada di dekatku, barangkali menemukan benda yang bisa untuk membela diri. “aaaaaa…..” splasss!!!!.
“Lili…, syukurlah kau siuman” suara serak agak cemas perlahan menendang gendang telingaku meski aku masih dalam keadaan belum normal. Bayangan hitam itu masih menggantung di kedua kelopak mataku. Hingga aku menyadari goyangan lembut menyentuh tubuhku. Aku baru tersadar, menata potongan nyata dalam hidup—perlahan . Dua detik kemudian aku mulai menyadari seseorang di sampingku—yang sedari tadi berusaha membuatku membuka mata.
“Raini…” aku terkejut setengah tidak percaya. “jadi, tadi itu mimpi?” aku entah bertanya pada siapa. Masih bingung menjelaskan ‘sesuatu’ yang berada di ujung lidahku. ‘sesuatu’ yang hendak ingin kukatakan tapi otakku malas berfikir.
“mimpi? Bukan Li, kau tadi….”
“kau tadi pingsan di kosan” Septian—yang baru kusadari keberadaannya, dengan cepat memotong penjelasan Raini.
“kau istirahatlah dulu. Jangan banyak gerak, apalagi pecicilan.” aku mengernyit menatap  Septian yang berbicara tanpa melihatku—malah bersitatap dengan Raini.
“iya Li, tenang aja aku bersedia nungguin kok” Raini menyetujui kalimat Septian. Aku rasa mereka sengaja sekongkol. Lihat saja, air muka Raini yang berubah nurut setelah mereka bersitatap. Aku tak mempeduliakan percakapan mereka—yang bercakap-cakap mendebatkan sesuatu di luar kamar rumah sakit. Apa yang barusan terjadi. Aku sibuk menganalisa ‘sesuatu’ yang mengganggu pikiranku. Aku berusaha mengingat apa yang terjadi 2 jam lalu. Tapi nihil. Mereka juga belum menjelaskan apapun padaku. Aku terus berfikir. Hingga terlelap.
***
Pagi memendarkan cahayanya dari balik gedung-gedung tinggi pencakar langit. Aku bersungut-sungut keluar kamar rumah sakit—milik kampus, menuju lorong tempat tunggu pasien. Setelah perdebatan yang berhasil menghilangkan moodku sepagi ini. Sial, kenapa mereka harus meminta keterangan tentang orangtuaku. Di sepanjang lorong, aku tak henti ngomel-ngomel. Aku yang sebal dengan celotehan perawat rumah sakit berseru kalau hal semacam ini bisa kuurus sendiri—berlari meninggalkan Raini dan Septian yang sok manis meladeni perawat itu. Setengah jam kemudian Raini dan Septian menghampiriku. Septian menegurku lebih dulu. Aku menatap Raini yang urung mengatakan sesuatu—mungkin sudah menyerah berdebat denganku.
“Li, kami hanya meminta kau menghubungi orangtuamu. Kami akan lebih tenang, setidaknya sampai teror kemarin malam nggak terjadi lagi. Kau juga harus chek-up, kami khawatir dengan kepalamu yang terbalut itu. Jangan-jangan otaknya penyok lagi. Hehe” Septian menasehatiku setengah bergurau. Aku menatap kosong ke sepanjang lorong, sejurus kemudian melirik Septian dengan senyum tipis lantas membalas nasehat Septian dengan dua kali anggukan.
“Li, aku tahu beberapa hari terakhir kau sibuk sendiri. Entahlah apa yang membuatmu seakan mengindari kami. Kalau kau memang punya masalah dengan kami, katakana saja. Bukankah itu peraturan dalam kelas kita?. Tapi perlu kau tahu Li, kami amat peduli denganmu. Meski kau kadang dingin, tapi kepedulian itu telah lama melekat sejak kau melempar Daus dengan penghapus. Aku masih ingat, kala itu pemilihan ketua kelas. Jelas, suasana kelas ramai. Berebut Septian yang pantaslah, Si Asyar-lah, Zuam-lah. Dan biang kerok akar keributan ya, Si Daus. Haha. Kau jengkel, refleks mau melempar pengahapus ke papan tulis eh malah kena Si Daus. Ajaibnya, seisi kelas diam. Tercengang”,Raini sudah duduk disampingku sembari melingkarkan tangannya ke punggungku. Dengan intonasi agak serak, mungkin menahan sesuatu yang mendongkol—mencoba menghiburku. Satu menit setelah kami terdiam tenggelam dalam pikiran masing-masing, Raini berdiri memberi isyarat, yuk pulang.
***
Septian menyarankanku untuk bermalam beberapa hari di kosan Raini. Awalnya aku ingin menolak, tapi Raini sudah mencomot alih pembicaraanku dengan Septian. Sebenarnya aku hanya butuh waktu sendiri, iya hanya aku seorang diri, hatiku dan keheningan. Kebetulan peristiwa itu terjadi malam sabtu. Dua hari, sabtu dan minggu aku rasa cukup untuk menenangkan pikiranku yang kacau akhir-akhir ini. Cukup juga untuk mengemasi rasa sakit, namun hanya aku seorang diri saja bersama keheningan. Sama seperti sore ini, tiduran di kamar Raini saja rasanya amat menyebalkan. Aku beranjak meninggalkan Raini yang tertidur pulas—menaiki anak tangga ke lantai tiga tempat menjemur pakaian. Di lantai tiga tanpa atap memang tempat yang tepat untuk menyegarkan paru-paru. Bahkan di ketinggian tempat ini bisa melihat langit, pemandangan tanpa batas. Hanya ada semilir angin yang memainkan suara khasnya dan keheningan. Banyak yang mesti kupikirkan sekaligus kuselesaikan bersama keheningan. Satu hal yang membuat pikiranku selama ini terganjal kenyataan. Iya, kepedulian mereka. Dan ketika malam merengkuh haknya nanti, pikiranku harus sudah beres. Entahlah, kejadian kemarin malam teralihkan dengan satu kenyataan yang tersembunyi. Meski kejadian itu akan berdampak menyeramkan suatu hari nanti. Namun kejadian itu juga menyiratkan porsi yang amat hebat tentang persahabatanku. Aku menganggap kepedulian mereka selama ini hanya perlakuan sebagaiamana mestinya orang bertindak. Ya, hanya wujud mungkin supaya mereka dipedulikan balik. Nyatanya aku salah. Aku keliru total. Dua hari sebelum peritiwa menyeramkan itu, aku sempat uring-uringan dengan Septian. Ah, hanya masalah uang kas. Dia pastinya mengerti benar keadaanku, kita sesama anak kosan. Aku terlalu menelan mentah perkatannya yang sebenarnya terkesan nyleweng tapi berhubung aku sedang gerah, aku mengatakan hal yang mestinya tidak aku katakan. Membuat air mukanya berubah tertunduk. Tapi lihat. Memang benar, kepeduliannya tidak berkurang sesentipun. Mereka tulus peduli padaku. Hanya saja aku butuh waktu untuk meluruskan arah pikiranku yang kadung tersesat. Tak apalah kadung tersesat. Beruntunglah, masih ada separuh hatiku yang cerah untuk menerangi pikiran yang tersesat . Aku belajar peduli sesama dari mereka. Baiklah, peduli apa pada separuh hatiku yang masih kelam. Aku masih punya separuh lagi yang mampu berpendar. Setidaknya, separuh yang cerah akan kuat bertahan menuntunku sampai aku menemukan semua jawabannya.
…….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar