Separuh
hati, kepedulian yang tulus.
Posisi tubuhku
terduduk bersandar tembok samping kosan. Menahan semacam cahaya yang meyilaukan
mata dengan punggung tangan menutup hampir seluruh kedua mataku. Pupil mataku
tak berakomodasi. Sial. Sekadar mengintip dari balik jari-jari meski cahaya itu
terlalu liar menyipitkan pupilku. Cahaya terang itu menampakkan siluet
seseorang berdiri tegak 4 meter dari tempatku terduduk. Aku berusaha berdiri
tegak, sialnya kedua kakiku terjerembap lumpur. Area samping kosan ditanami
padi. Ada pembatas semacam jalan setapak kira-kira dua jengkal. Seseorang itu
mendekat membuat silau sempurna menusuk mukaku. Entahlah, tiba-tiba ada sesuatu
yang lebih dingin dari udara malam ini bagai merambat ke sekujur tubuhku. Dua
detik kemudian cahaya itu lenyap, aku tak bisa melihat apapun di depanku.
Mataku pun berhenti bekerja, gelap seketika.
***
“kau…” dengan nafas terengah aku
meraba apa saja yang ada di dekatku, barangkali menemukan benda yang bisa untuk
membela diri. “aaaaaa…..” splasss!!!!.
“Lili…, syukurlah kau siuman”
suara serak agak cemas perlahan menendang gendang telingaku meski aku masih
dalam keadaan belum normal. Bayangan hitam itu masih menggantung di kedua
kelopak mataku. Hingga aku menyadari goyangan lembut menyentuh tubuhku. Aku
baru tersadar, menata potongan nyata dalam hidup—perlahan . Dua detik kemudian
aku mulai menyadari seseorang di sampingku—yang sedari tadi berusaha membuatku
membuka mata.
“Raini…” aku terkejut setengah
tidak percaya. “jadi, tadi itu mimpi?” aku entah bertanya pada siapa. Masih
bingung menjelaskan ‘sesuatu’ yang berada di ujung lidahku. ‘sesuatu’ yang
hendak ingin kukatakan tapi otakku malas berfikir.
“mimpi? Bukan Li, kau tadi….”
“kau tadi pingsan di kosan” Septian—yang
baru kusadari keberadaannya, dengan cepat memotong penjelasan Raini.
“kau istirahatlah dulu. Jangan
banyak gerak, apalagi pecicilan.” aku mengernyit menatap Septian yang berbicara tanpa melihatku—malah
bersitatap dengan Raini.
“iya Li, tenang aja aku bersedia
nungguin kok” Raini menyetujui kalimat Septian. Aku rasa mereka sengaja
sekongkol. Lihat saja, air muka Raini yang berubah nurut setelah mereka
bersitatap. Aku tak mempeduliakan percakapan mereka—yang bercakap-cakap
mendebatkan sesuatu di luar kamar rumah sakit. Apa yang barusan terjadi. Aku
sibuk menganalisa ‘sesuatu’ yang mengganggu pikiranku. Aku berusaha mengingat
apa yang terjadi 2 jam lalu. Tapi nihil. Mereka juga belum menjelaskan apapun
padaku. Aku terus berfikir. Hingga terlelap.
***
Pagi memendarkan
cahayanya dari balik gedung-gedung tinggi pencakar langit. Aku bersungut-sungut
keluar kamar rumah sakit—milik kampus, menuju lorong tempat tunggu pasien.
Setelah perdebatan yang berhasil menghilangkan moodku sepagi ini. Sial, kenapa mereka harus meminta keterangan
tentang orangtuaku. Di sepanjang lorong, aku tak henti ngomel-ngomel. Aku yang
sebal dengan celotehan perawat rumah sakit berseru kalau hal semacam ini bisa
kuurus sendiri—berlari meninggalkan Raini dan Septian yang sok manis meladeni
perawat itu. Setengah jam kemudian Raini dan Septian menghampiriku. Septian
menegurku lebih dulu. Aku menatap Raini yang urung mengatakan sesuatu—mungkin
sudah menyerah berdebat denganku.
“Li, kami hanya meminta kau
menghubungi orangtuamu. Kami akan lebih tenang, setidaknya sampai teror kemarin
malam nggak terjadi lagi. Kau juga harus chek-up,
kami khawatir dengan kepalamu yang terbalut itu. Jangan-jangan otaknya penyok lagi. Hehe” Septian menasehatiku
setengah bergurau. Aku menatap kosong ke sepanjang lorong, sejurus kemudian
melirik Septian dengan senyum tipis lantas membalas nasehat Septian dengan dua
kali anggukan.
“Li, aku tahu beberapa hari
terakhir kau sibuk sendiri. Entahlah apa yang membuatmu seakan mengindari kami.
Kalau kau memang punya masalah dengan kami, katakana saja. Bukankah itu
peraturan dalam kelas kita?. Tapi perlu kau tahu Li, kami amat peduli denganmu.
Meski kau kadang dingin, tapi kepedulian itu telah lama melekat sejak kau
melempar Daus dengan penghapus. Aku masih ingat, kala itu pemilihan ketua
kelas. Jelas, suasana kelas ramai. Berebut Septian yang pantaslah, Si Asyar-lah,
Zuam-lah. Dan biang kerok akar keributan ya, Si Daus. Haha. Kau jengkel,
refleks mau melempar pengahapus ke papan tulis eh malah kena Si Daus. Ajaibnya,
seisi kelas diam. Tercengang”,Raini sudah duduk disampingku sembari melingkarkan
tangannya ke punggungku. Dengan intonasi agak serak, mungkin menahan sesuatu
yang mendongkol—mencoba menghiburku. Satu menit setelah kami terdiam tenggelam
dalam pikiran masing-masing, Raini berdiri memberi isyarat, yuk pulang.
***
Septian
menyarankanku untuk bermalam beberapa hari di kosan Raini. Awalnya aku ingin
menolak, tapi Raini sudah mencomot alih pembicaraanku dengan Septian.
Sebenarnya aku hanya butuh waktu sendiri, iya hanya aku seorang diri, hatiku
dan keheningan. Kebetulan peristiwa itu terjadi malam sabtu. Dua hari, sabtu
dan minggu aku rasa cukup untuk menenangkan pikiranku yang kacau akhir-akhir
ini. Cukup juga untuk mengemasi rasa sakit, namun hanya aku seorang diri saja
bersama keheningan. Sama seperti sore ini, tiduran di kamar Raini saja rasanya
amat menyebalkan. Aku beranjak meninggalkan Raini yang tertidur pulas—menaiki
anak tangga ke lantai tiga tempat menjemur pakaian. Di lantai tiga tanpa atap
memang tempat yang tepat untuk menyegarkan paru-paru. Bahkan di ketinggian
tempat ini bisa melihat langit, pemandangan tanpa batas. Hanya ada semilir
angin yang memainkan suara khasnya dan keheningan. Banyak yang mesti kupikirkan
sekaligus kuselesaikan bersama keheningan. Satu hal yang membuat pikiranku
selama ini terganjal kenyataan. Iya, kepedulian mereka. Dan ketika malam
merengkuh haknya nanti, pikiranku harus sudah beres. Entahlah, kejadian kemarin
malam teralihkan dengan satu kenyataan yang tersembunyi. Meski kejadian itu
akan berdampak menyeramkan suatu hari nanti. Namun kejadian itu juga
menyiratkan porsi yang amat hebat tentang persahabatanku. Aku menganggap
kepedulian mereka selama ini hanya perlakuan sebagaiamana mestinya orang
bertindak. Ya, hanya wujud mungkin supaya mereka dipedulikan balik. Nyatanya
aku salah. Aku keliru total. Dua hari sebelum peritiwa menyeramkan itu, aku sempat
uring-uringan dengan Septian. Ah, hanya masalah uang kas. Dia pastinya mengerti
benar keadaanku, kita sesama anak kosan. Aku terlalu menelan mentah perkatannya
yang sebenarnya terkesan nyleweng tapi berhubung aku sedang gerah, aku
mengatakan hal yang mestinya tidak aku katakan. Membuat air mukanya berubah
tertunduk. Tapi lihat. Memang benar, kepeduliannya tidak berkurang sesentipun.
Mereka tulus peduli padaku. Hanya saja aku butuh waktu untuk meluruskan arah
pikiranku yang kadung tersesat. Tak apalah kadung tersesat. Beruntunglah, masih
ada separuh hatiku yang cerah untuk menerangi pikiran yang tersesat . Aku
belajar peduli sesama dari mereka. Baiklah, peduli apa pada separuh hatiku yang
masih kelam. Aku masih punya separuh lagi yang mampu berpendar. Setidaknya,
separuh yang cerah akan kuat bertahan menuntunku sampai aku menemukan semua
jawabannya.
…….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar