Setelah sekian lama, aku pikir senyuman dan tangisan satu
tahun sebelum semester ini (baca: semester 3) akan berlalu. Bagian kenangan
yang terlintas saat aku melewati lorong demi lorong waktuku. Kenangan tangis,
rasa sakit, senyuman, candaan hanya mengendap beberapa bulan. Dan kini aku
kembali. Aku kembali menjalani hari dimana kau selalu terlihat di bayang
mataku. Pada suatu hari, aku memutuskan mengalihkan bayangmu bersama senja. Namun
senja remang yang begitu indah ternyata kau memilikinya juga. Hingga senja
nyata yang sering aku tunggu dan kagumi kala melihatnya tak perlu lagi
kulakukan. Karena senja kini adalah dirimu. Boleh jadi, aku selalu menunggumu. Sama
seperti aku menunggu senja. Dimana saat aku mulai melihatmu, kau sama
spesialnya dengan senja. Bahkan kau lebih mengangumkan dari senja. Entahlah,
begitu banyak senja yang menghempaskan segala indahnya, namun hanya senja yang
sama, aku mampu menatapnya.
Selasa, 16 September 2014
Rabu, 18 Juni 2014
Ketidakbolehan = Tiket Kebaikan
Bagiku
terlalu sulit bercerita tentang keadaan diri sendiri terhadap orang lain. Tak
apa bagiku menjadi seorang pendengar. Selama sesuatu yang aku dengar sangat
menyenangkan, menarik dan bisa menginspirasi. Seperti mayoritas anak perempuan,
ngerumpi begitulah cara mereka menyampaikan cerita tentang hidupnya. Dalam
hidup ini, kita berada pada berbagai macam bentuk perlakuan dari keluarga kita.
Bahwa kita sebagai anak kadang salah mengartikan perlakuan orangtua. Karena ada
sebagian orang tua dari kita yang tak pernah menjelaskan maksud dari
ketidakbolehan mereka. Bukankah begitu? Ketika kita menginjak remaja,
katakanlah pada masa SMP dam SMA. Menurut teori psikologi pada masa-masa inilah
seorang anak memiliki rasa penasaran yang kuat. Aku yakin kalian pernah
dilarang oleh orang tua atas sesuatu hal. Nah, inilah beruntungnya menjadi
seorang pendengar. Percaya tidak bahwa sebenarnya setiap orang itu punya cerita
yang hampir mirip hanya saja alur cerita, suasana hati dan tergantung dari
sikap kita yang membedakan. Namun intinya sama.
Di
sini bukan untuk membeberkan cerita seseorang, namun aku ingin menyampaikan
bahwa janganlah salah mengartikan ketidakbolehan orangtua. Ketika kalian
dilarang oleh orang tua, namun mereka tidak menjelaskan secara detail kepada
kalian. Janganlah kalian menganggap itu adalah bentuk perlakuan buruk kepada
kalian. Karena mungkin dari sebagian orangtua yang tidak mau menjelaskan secara
detail percaya bahwa suatu saat nanti anaknya akan tumbuh dengan pemikiran yang
dewasa. Begini, cerita dari temanku hamper sama juga dengan cerita tentang
hidupku. Pasti hamper sama juga dengan mayoritas anak perempuan. Pada masa-masa
remaja merasa terkekang, tidak boleh melakukan hal-hal diluar ketidakwajaran
menurut orangtua. Ya, dia bahkan meski hanya keluar dengan teman perempuannya,
tidak boleh tanpa orangtuanya yang mengantar.
Namun
ada cerita dari temannya yang tak kalah seru. Dimana ketika orangtua
mengajarkan dia tentang sesuatu ketidakbolehan dari mereka dan mereka percaya
penuh terhadap anaknya. Ya, seorang anak yang tumbuh dengan kepribadian yang
tomboy, keluar malam, gaya hidup yang mungkin jika dibandingkan denganku itu
tidak mungkin dilakukan oleh seorang anak perempuan. Tapi apa? Kenyataan mampu
menjaga dirinya. Nah, berarti menjadi pemikir yang seperti apakah kita, itu
tergantung cara orangtua mengajarkan kepada kita tentang hidup. Dengan
penyampaian tentang hidup dari orangtua kepada dia, dia menjadi sosok anak
perempuan dengan pemikiran yang hati-hati dan bijaksana. Benar-benar hebat, dan
hebatnya dia sukses. Begitulah, sebenarnya bentuk ketidakbolehan orangtua itu
adalah tiket kita menjadi orang yang baik. Jadi, bagi kalian yang masih SMP,SMA
janganlah melawan ketidakbolehan orangtua kalian selama itu adalah hal yang
baik buat kalian. Jadilah pribadi dengan pemikir yang baik. Karena setiap
perlakuan dari orangtua itu juga tergantung dari pribadi kita masing-masing.
Diberi kepercayaan oleh
mereka berarti mereka mempercayai bahwa kita telah menjadi pribadi yang dewasa
dengan pemikiran yang hebat. Karena jika kalian salah mengartikan
ketidakbolehan mereka, jiwa kalian itu masih jiwa labil. Kalian hanya perlu
menerima dengan pemikiran yang positif. Dengan bertambahnya umur suatu saat
kalian akan sadar. Bahwa mereka melakukan hal tersebut demi kebaikan kalian.
Karena jangan sampai dengan ketidakbolehan mereka menjadikan kalian salah jalan
dan keliru menjadi pemikir yang hebat. Seperti inilah cerita yang aku kemas,
karena bagiku mendengar cerita orang lain itu sangat menyenangkan dan menarik.
Dan salah satu wujud kebisaanku yaitu hanya mampu menorehkan setiap kata lewat
tulisan. Maka semoga siapapun yang membaca mendapat “sesuatu” yang bermanfaat
dari sini.
Senin, 03 Maret 2014
Tak Ada Ruang Untukku[?]
![]() |
| my collection Ig |
Ah,
akhir-akhir ini radak melankolis. Aku
ndak tahu harus mulai coretan ini
darimana. Sejak 8 Februari yang lalu berlalu, kita beneran beda. Atau memang
kau yang sudah berbeda namun aku yang selalu curiga pada hatiku. Curiga. Iya
hatiku curiga, jangan-jangan aku tak sungguhan focus pada mimpi-mimpiku. Sibuk
merindukanmu kala pagi mengintip. Sibuk memasang ‘alarm’ berharap kau juga
merasakan yang sama. Namun hari ini aku benaran sadar!. Kau sungguhan berbeda.
Ruang kolom kecil di layar hp saja
hanya bersimbol gambar kau tersenyum. Ah, aku bukan pakar emoticon!. Tak ada
pembiaraan yang serius memang. Namun bukankah kau masih supel seperti dulu?.
Atau kau mulai membenciku? Tidak, aku tidak menuduhmu dengan sembarang
prasangka. Sungguhan. Akhir-akhir ini ruang kita, eh bukan, ruangku maksudnya
mulai kau abaikan. Bagaimana? Benarkan?. Atau kau mulai mempersilakan masuk
tamu yang kau inginkan berada di ruangmu? Begitukah? Baiklah, jujur saja aku sudah mulai damai dengan
hatiku, kau boleh mempersilakan masuk. Teramat boleh. Bukan menjadi keharusan
larangan untukmu mulai sekarang tentang ketidakbolehanku. Jadi, mulai sekarang
bagaimana kalau aku biarkan kau menjajah duniamu lebih luas tanpa aku harus
selalu merasa berharap kau sama? Eh maksudku tanpa aku merasa seperti harus
selalu menunggumu, iya. Kau kejar mimpi-mimpimu, aku juga akan mengejar
mimpiku. Meski aku tak tahu harus menunggu dengan model sukses yang seperti
apa. Tapi aku akan menunggu dengan model sukses yang kupunya. Meski tak ada
tempat menunggu selain di sini, ya menunggu kau dan aku sukses. Aku tak
mengharuskan kau sukses membuat hidupmu berwarna dengan model menungguku di
sini, namun kau harus sukses membuatku tersenyum lega dengan model menungguku
di sini. Ya, tersenyum lega ketika kau tak lagi sama.
Rabu, 26 Februari 2014
:)
![]() |
| audi-audi.deviantart.com |
Hidup ini (bukan) seperti Akar Gantung
Separuh
hati, kepedulian yang tulus.
Posisi tubuhku
terduduk bersandar tembok samping kosan. Menahan semacam cahaya yang meyilaukan
mata dengan punggung tangan menutup hampir seluruh kedua mataku. Pupil mataku
tak berakomodasi. Sial. Sekadar mengintip dari balik jari-jari meski cahaya itu
terlalu liar menyipitkan pupilku. Cahaya terang itu menampakkan siluet
seseorang berdiri tegak 4 meter dari tempatku terduduk. Aku berusaha berdiri
tegak, sialnya kedua kakiku terjerembap lumpur. Area samping kosan ditanami
padi. Ada pembatas semacam jalan setapak kira-kira dua jengkal. Seseorang itu
mendekat membuat silau sempurna menusuk mukaku. Entahlah, tiba-tiba ada sesuatu
yang lebih dingin dari udara malam ini bagai merambat ke sekujur tubuhku. Dua
detik kemudian cahaya itu lenyap, aku tak bisa melihat apapun di depanku.
Mataku pun berhenti bekerja, gelap seketika.
***
“kau…” dengan nafas terengah aku
meraba apa saja yang ada di dekatku, barangkali menemukan benda yang bisa untuk
membela diri. “aaaaaa…..” splasss!!!!.
“Lili…, syukurlah kau siuman”
suara serak agak cemas perlahan menendang gendang telingaku meski aku masih
dalam keadaan belum normal. Bayangan hitam itu masih menggantung di kedua
kelopak mataku. Hingga aku menyadari goyangan lembut menyentuh tubuhku. Aku
baru tersadar, menata potongan nyata dalam hidup—perlahan . Dua detik kemudian
aku mulai menyadari seseorang di sampingku—yang sedari tadi berusaha membuatku
membuka mata.
“Raini…” aku terkejut setengah
tidak percaya. “jadi, tadi itu mimpi?” aku entah bertanya pada siapa. Masih
bingung menjelaskan ‘sesuatu’ yang berada di ujung lidahku. ‘sesuatu’ yang
hendak ingin kukatakan tapi otakku malas berfikir.
“mimpi? Bukan Li, kau tadi….”
“kau tadi pingsan di kosan” Septian—yang
baru kusadari keberadaannya, dengan cepat memotong penjelasan Raini.
“kau istirahatlah dulu. Jangan
banyak gerak, apalagi pecicilan.” aku mengernyit menatap Septian yang berbicara tanpa melihatku—malah
bersitatap dengan Raini.
“iya Li, tenang aja aku bersedia
nungguin kok” Raini menyetujui kalimat Septian. Aku rasa mereka sengaja
sekongkol. Lihat saja, air muka Raini yang berubah nurut setelah mereka
bersitatap. Aku tak mempeduliakan percakapan mereka—yang bercakap-cakap
mendebatkan sesuatu di luar kamar rumah sakit. Apa yang barusan terjadi. Aku
sibuk menganalisa ‘sesuatu’ yang mengganggu pikiranku. Aku berusaha mengingat
apa yang terjadi 2 jam lalu. Tapi nihil. Mereka juga belum menjelaskan apapun
padaku. Aku terus berfikir. Hingga terlelap.
***
Pagi memendarkan
cahayanya dari balik gedung-gedung tinggi pencakar langit. Aku bersungut-sungut
keluar kamar rumah sakit—milik kampus, menuju lorong tempat tunggu pasien.
Setelah perdebatan yang berhasil menghilangkan moodku sepagi ini. Sial, kenapa mereka harus meminta keterangan
tentang orangtuaku. Di sepanjang lorong, aku tak henti ngomel-ngomel. Aku yang
sebal dengan celotehan perawat rumah sakit berseru kalau hal semacam ini bisa
kuurus sendiri—berlari meninggalkan Raini dan Septian yang sok manis meladeni
perawat itu. Setengah jam kemudian Raini dan Septian menghampiriku. Septian
menegurku lebih dulu. Aku menatap Raini yang urung mengatakan sesuatu—mungkin
sudah menyerah berdebat denganku.
“Li, kami hanya meminta kau
menghubungi orangtuamu. Kami akan lebih tenang, setidaknya sampai teror kemarin
malam nggak terjadi lagi. Kau juga harus chek-up,
kami khawatir dengan kepalamu yang terbalut itu. Jangan-jangan otaknya penyok lagi. Hehe” Septian menasehatiku
setengah bergurau. Aku menatap kosong ke sepanjang lorong, sejurus kemudian
melirik Septian dengan senyum tipis lantas membalas nasehat Septian dengan dua
kali anggukan.
“Li, aku tahu beberapa hari
terakhir kau sibuk sendiri. Entahlah apa yang membuatmu seakan mengindari kami.
Kalau kau memang punya masalah dengan kami, katakana saja. Bukankah itu
peraturan dalam kelas kita?. Tapi perlu kau tahu Li, kami amat peduli denganmu.
Meski kau kadang dingin, tapi kepedulian itu telah lama melekat sejak kau
melempar Daus dengan penghapus. Aku masih ingat, kala itu pemilihan ketua
kelas. Jelas, suasana kelas ramai. Berebut Septian yang pantaslah, Si Asyar-lah,
Zuam-lah. Dan biang kerok akar keributan ya, Si Daus. Haha. Kau jengkel,
refleks mau melempar pengahapus ke papan tulis eh malah kena Si Daus. Ajaibnya,
seisi kelas diam. Tercengang”,Raini sudah duduk disampingku sembari melingkarkan
tangannya ke punggungku. Dengan intonasi agak serak, mungkin menahan sesuatu
yang mendongkol—mencoba menghiburku. Satu menit setelah kami terdiam tenggelam
dalam pikiran masing-masing, Raini berdiri memberi isyarat, yuk pulang.
***
Septian
menyarankanku untuk bermalam beberapa hari di kosan Raini. Awalnya aku ingin
menolak, tapi Raini sudah mencomot alih pembicaraanku dengan Septian.
Sebenarnya aku hanya butuh waktu sendiri, iya hanya aku seorang diri, hatiku
dan keheningan. Kebetulan peristiwa itu terjadi malam sabtu. Dua hari, sabtu
dan minggu aku rasa cukup untuk menenangkan pikiranku yang kacau akhir-akhir
ini. Cukup juga untuk mengemasi rasa sakit, namun hanya aku seorang diri saja
bersama keheningan. Sama seperti sore ini, tiduran di kamar Raini saja rasanya
amat menyebalkan. Aku beranjak meninggalkan Raini yang tertidur pulas—menaiki
anak tangga ke lantai tiga tempat menjemur pakaian. Di lantai tiga tanpa atap
memang tempat yang tepat untuk menyegarkan paru-paru. Bahkan di ketinggian
tempat ini bisa melihat langit, pemandangan tanpa batas. Hanya ada semilir
angin yang memainkan suara khasnya dan keheningan. Banyak yang mesti kupikirkan
sekaligus kuselesaikan bersama keheningan. Satu hal yang membuat pikiranku
selama ini terganjal kenyataan. Iya, kepedulian mereka. Dan ketika malam
merengkuh haknya nanti, pikiranku harus sudah beres. Entahlah, kejadian kemarin
malam teralihkan dengan satu kenyataan yang tersembunyi. Meski kejadian itu
akan berdampak menyeramkan suatu hari nanti. Namun kejadian itu juga
menyiratkan porsi yang amat hebat tentang persahabatanku. Aku menganggap
kepedulian mereka selama ini hanya perlakuan sebagaiamana mestinya orang
bertindak. Ya, hanya wujud mungkin supaya mereka dipedulikan balik. Nyatanya
aku salah. Aku keliru total. Dua hari sebelum peritiwa menyeramkan itu, aku sempat
uring-uringan dengan Septian. Ah, hanya masalah uang kas. Dia pastinya mengerti
benar keadaanku, kita sesama anak kosan. Aku terlalu menelan mentah perkatannya
yang sebenarnya terkesan nyleweng tapi berhubung aku sedang gerah, aku
mengatakan hal yang mestinya tidak aku katakan. Membuat air mukanya berubah
tertunduk. Tapi lihat. Memang benar, kepeduliannya tidak berkurang sesentipun.
Mereka tulus peduli padaku. Hanya saja aku butuh waktu untuk meluruskan arah
pikiranku yang kadung tersesat. Tak apalah kadung tersesat. Beruntunglah, masih
ada separuh hatiku yang cerah untuk menerangi pikiran yang tersesat . Aku
belajar peduli sesama dari mereka. Baiklah, peduli apa pada separuh hatiku yang
masih kelam. Aku masih punya separuh lagi yang mampu berpendar. Setidaknya,
separuh yang cerah akan kuat bertahan menuntunku sampai aku menemukan semua
jawabannya.
…….
Rabu, 19 Februari 2014
Kotor...
Kotor....
Kau
adalah penghalus
kata untuk mempertajam
hati manusia
Supaya
kau tak di acuhkan sia-sia
Rusak
pulalah bumi kita
Kotor...
Kau
adalah bakteri yang membelah dengan cepatnya, tanpa hitungan menit
Tanpa
antigen kau adalah pembunuh bagi penghuni bumi
Tapi kau
memang pantas untuk kejam
Penghuni
bumi tak peduli keberadaanmu, dan hanya segelintir manusia
Kotor...
Aku
menyukaimu jika kau tetap menjadi seni yang dipoles dengan menghapus kata cacat
Maka
itulah tugas kami, para penghuni bumi
Kotor...
Kau
takkan lagi menjijikkan jika
bagai permadani surga
Mengkilat,
harum tiap memapah penghuni bumi
Dan lagi
kami terbuai bersih fatamorgana dunia
Wonogiri,
10 Februari 2014
Aku suka kotor, tapi......
Sebenarnya
kalau boleh jujur, aku lebih suka dengan
motorku yang kotor, belepotan ampas tanah
yang menempel di sudut-sudut ban, dan aku tetap PD menungganginya pergi ke kampus. Pernah suatu hari motorku dicuci
bapak, entah mataku yang rabun atau memang sudah menjadi seleraku. Motorku
nggak keren lagi. Haha. Bagiku kotor itu seni yang perlu polesan. Seperti
biasa, udara dingin di desa menggelitiki hidungku hingga bersin-bersin tak
tertahankan. Ah sebenarnya beberapa hari yang lalu, aku memelototi motorku yang
kacau abis, kotor abis, dan bener-bener seni badai. Baru kali ini aku merasa
nggak tega melihatnya. Huh dengan maksud keterpaksaan aku mencuci motorku. Wow,
ternyata aku baru sadar! Bersih itu biasa saja!. Iya, biasa. Dan sialnya,
ketidak-tegaan-ku menyeruak seketika setelah kemarin sore memelototi motorku
yang sudah kacau abis (lagi). Memang ya, musim hujan selalu melukiskan seni.
Tetes hujan yang bergerombolan membuat lubang-lubang di jalanan. Apalagi
jalanan masuk desa, sudah bukan lagi jalanan. Tepatnya seperti kubangan kerbau
pembajak sawah. Dan itulah seninya. Pagi hari beranjak mengintip masanya.
Setelah salat subuh, aku bergegas memelototi motorku. Yeah, ini adalah seni
kubangan air hujan. Motorku parah lagi, kotor. Udara dingin menelisik ke lubang
hidung menerobos rambut hingga membuat pengar. Ada semacam hasutan ringan di
ujung pengar pagi ini,”kasihani
aku... aku benci kotor”. Aku melepas satu semprotan lega dan lagi lagi karena pengar, bersin. Duh, jangan-jangan ini
pertanda untukku. Baiklah, aku menuntun motorku dengan anggun menuju pelataran
rumah. Oh ya ampun aku nggak bisa kalau harus mengguyur motorku dengan air
sedingin pagi ini. Sama persis sedingin kau padaku, ah sudahlah.
Pagi hari
yang masih menyisakan titik embun, mengepulkan kabut di udara, dan tampilan
motorku yang seni badai. Aku memulai ritual dengan mengguyur jog motor hingga membasahi seluruh
sendi-sendi gerigi motor. Ritual pagi kali ini berjalan mulus, aku sumringah. Teriakan
ibuk menyerang kepulan kabut sepagi itu,”mbak, bajune adike ndang disetlika”.
Tanpa kata yang biasa aku rengekkan, kakiku otomatis menuruti teriakan ibuk.
Apa pula ini, jam dinding yang tertempel sepertinya mengejekku. Pukul 05.45.
Ironisnya dengan waktu yang biasanya sudah aku targetkan, aku tetap santai.
Iya, jadwal hari ini; berangkat ke kampus pukul 06.00 untuk pengambilan KHS.
Dan aku masih di rumah, kampungku. Usai menyetlika seragam adik, aku diminta
ibuk untuk mengantarkan beliau ngirim
makanan. Musim hujan kali ini adalah masa jayanya bagi petani. Musim hujan
bertaburkan panen jagung.
Setelah
melewati jalan licin dan bergeronjal
tibalah di tempat tujuan. Kalau aku bertanya tentang sawah atau ladang, apa yang
ada di otak kalian? Kalau aku sendiri sih “inilah medan pertempuran”. Bagaimana
bisa medan pertempuran? Bayangkan saja, dengan jalan setapak yang hanya
kira-kira 5 jengkal ke samping kanan atau kiri di lewati pulang -pergi para
pengusaha(petani) jagung. Kalian jangan kira jalan setapak ini bak catwalk para
artis, ini jauh lebih ngeri. Lagi pula kan musim hujan. Rerumputan yang grembuyukan hijau menutupi jalan harus
tertunduk. Hanya tersisa di pinggirnya saja sudah belepotan dengan lumpur.
Becek. Aku kewalahan mengikuti langkah ibuk yang lincah menaklukan jerembapan
jalan setapak. Ya, lengah sedikit bisa berkabung dengan lumpur, mandi lumpur.
Bahkan langkahku kalah cepat. Aku yang hanya membawa 2 karung goni, 1 pasang
sandal, dan 1 poci. Sedangkan ibuk menggendong 1 tenggok, kedua tangannya mententeng rantang berisi makanan. Ya,
meski ibuk mengajar di sekolah, namun memiliki beberapa sawah. Jadilah begini
setiap musim panen tiba. Jadi teringat novel Tere-Liye yang berjudul
“Bidadari-Bidadari Surga”. Kak Laisa yang setiap hari membantu emaknya pergi ke
ladang, bekerja keras, mencari rotan ke hutan. Hanya demi adik-adiknya agar
bisa bersekolah. Oke, kembali. Jadi, seperti inikah medan perang para petani?
Pernah terbesit dipikiranku bahwa jadi seorang petani itu menyusahkan, ribet.
Dan sampai pada suatu hari, aku tersadarkan oleh ucapan orangtuaku. Iya, uang
untuk menyekolahkanku tak lain adalah hasil jerih payah mereka mengelola
ladang. Dan ketika hari itu usai, tumbuh keinginan dibenakku. Adalah menjadi
pengusaha palawija. Kedengarannya
memang konyol. Iya, aku baru saja bergelut dengan medan perang para petani.
Kelincahanku kalah telak. Kakiku berwarna hitam oleh kubangan jalan setapak.
Wow, seketika teringat materi biologi, ah. Ini kacaunya. Imajinasiku memenuhi
seisi kepala. Aku melihat kakiku yang kotor penuh lumpur. Ah, pasti banyak
bakteri yang nempel di kakiku. Gimana kalau mereka menembus kulitku? Makan
kakiku?. Haha. Tenang saja, makhluk-makhluk yang bakal nempel nggak mungkin
sampai bikin kakimu berkarat kok. Pastinya setiap karya Tuhan yang merugikan
selalu ada penawarnya. Urusan kaki kotor saja gelehnya minta ampun. Eh giliran motor yang kotor girangnya
kelewatan.
Mungkin ya kalau ada sesuatu yang bikin kita
(terutama manusia) cacat pasti tanpa pikir panjang sebisa mungkin ngilangin itu cacat. Nah, giliran ada
yang cacat sama benda mati, kita malas buat bantu nyempurnain. Tuh, ada yang cacat sama negara kita. Yuk bantu nyempurnain!. Tamparan berat buat sang
penulis. Hehe. Baiklah, mungkin aku memang suka ngeliat motorku kotor, tapi
kalau bagian tubuhku ada yang kotor tentu saja aku nggak suka. Iya, aku nggak
suka bagian tubuhku kotor. Itu wajar
karena kotor akan membuat cacat apa yang semestinya terlihat indah. Iya,
karena cacat itu akan menempel pada identitas kita. Tentu saja kita sayang sama
dirisendiri, identitas kita. Biarlah kotor itu tetap menjadi seni. Tapi seni
yang dipoles dengan menghapus kata cacat. Begitu pula dengan negara kita. Yuk,
eratkan Indonesia bagian
dari identitas kita!.
Langganan:
Postingan (Atom)


